NILAI BERITA
A.
PENDAHULUAN
Jurnalisme
adalah kegiatan bercerita yang mengandung suatu tujuan. Cerita tersebutlah yang
disebut dengan berita, dalam cerita atau berita itu tersirat pesan yang ingin
disampaikan wartawan kepada pembacanya. Dan ada tema yang diangkat dari suatu
peristiwa. Dalam berita ada karakteristik intrinsik yang dikenal sebagai nilai
berita ( News Value ). Nilai berita
ini menjadi ukuran yang berguna atau yang biasa diterapkan, untuk menentukan
layak tidaknya berita tersebut.[1] Nilai
berita menjadi penting dalam penyajian suatu berita yang akan di sebar luaskan ke
public karena nilai berita juga menjadi acuan yang dapat digunakan oleh para
jurnalis, yakni para reporter dan editor, untuk memutuskan fakta yang pantas
dijadikan berita dan memilih mana yang lebih baik dan hal inilah yang menjadi
alasan dan latar belakang betapa pentingnya nilai berita untuk dipahami
terutama oleh insan jurnalisme supaya berita yang disajikan akan lebih
berkualitas.
Semakin
baiknya kualitas sebuah berita maka hal ini juga menunjukan bahwa semakin baik
pula karya jurnalistik yang dihasilkan dan bahkan sebuah kualitas berita bisa
berarti luas dengan kontribusi dalam mencerdaskan publik. Semakin kritis public
terhadap sebuah nilai berita itu artinya public semakin intelektual. Menurut
Wibowo, (2005:19) Dalam kaitannya dengan jurnalistik, khlayak pembaca bukanlah
merupakan subyek yang pasif melainkan subjek yang turut aktif pula menafsirkan
bacaannya. Sesungguhnya pendapat tersebut tidak hanya bisa diaplikasikan
terhadap bentuk jurnalistik media cetak saja namun juga bisa dikaitkan dengan
jurnalistik media elektronik yaitu public disini bisa berarti penonton
televise, netizen ( pengguna internet) dan sebagainya yang menjadi khalayak
dari media elektronik juga merupakan subyek dan merekapun bukanlah subjek yang
pasif namun juga merupakan subjek yang aktif dengan apa yang mereka konsumsi
atau dengan berita yang mereka lihat contoh dalam bentuk visual. Nilai berita
menjadi sebuat batas kelayakan yang wajib dalam dunia jurnalistik karena
berkaitan langsung dengan khalayak berita, baik itu berupa presepsi maupun
dampak.
B.
PEMBAHASAN
Nilai berita (news values) menurut Downie JR dan
Kaiser merupakan istilah yang tidak mudah didefinisikan. Istilah ini merupakan sesuatu
yang tidak mudah dikonsepsikan. Ketinggian nilainya tidak mudah di konkritkan. [2]
Nilai berita menurut pandangan lama dan modern yaitu :
Nilai berita menurut pandangan lama
Wacana
nilai berita atau kriteria dalam menyeleksi berita yang dimulai di lingkungan
para pakar komunikasi pada tahun 1960-an sebenarnya memiliki tradisi yang
panjang. Dalam Schediasma Curiosum de
Lectione Novellarum, Cristian Weis mengemukakan pada tahun 1976 bahwa dalam
memilih berita harus dipisahkan antara yang benar dan yang palsu.[3]
Tobias
Peuceur pada tahun 1960 mengemukakan beberiapa kriteria yang menentukan nilai
layak berita anatara lain:
Pertama,
tanda-tanda yang tidak lazim, benda-benda yang ganjil, hasil kerja atau produk
alam dan seni yang hebat dan tidak biasa. banjir atau badai yang disertai petir
dan guruh yang mengerikan, gempa bumi, sesuatu yang aneh dan muncul dengan
tiba-tiba di langit, dan penemuan-penemuan baru yang pada abad itu sangat
banyak terjadi.
Kedua,
berbgai jenis keadaan, perubahan, perubahan-perubahan pemerintah, masalah
perang dan damai, sebab-sebab perang dan keinginan-keinginan perang,
pertempuran, kekalahan, rencana-rencana para pemimpin militer, undang-undang
baru, pertimbangan-pertimbangan yang disetujui, pegawai negeri, orang-orang
terkenal, kematian dan keahlian orang terkenal, ahli waris tahta,
upacara-upacara resmi seperti pelantikan.
Ketiga,
maslah-masalah gereja dan keterpelajaran, misalnya asal-usul agama itu dan
agama ini, pendirinya, kemajuannya, sekte-sekte baru, dogma-dogma baru yang
diputuskan, ritual-ritual, perpecahan agama, penyiksaan, muktamar, kegamaan,
keputusan-keputusan yang diambil, karya tulis para sarjana, perselisihan
ilmiah, karya baru terpelajar, keberanian berusaha, perselisihan, bencana alam,
warga masyarakat.
Nilai berita dalam pandangan modern
Pandangan
ini dihubungkan dengan nama Walter Lippmann, wartawan amerika yang terkenal
pada awal abad lalu. Ia menggunakan
istilah nilai berita untuk pertama kalinya dalam bukunya Public Opinion pada tahun 1992. Ia menyebutkan bahwa suatu berita
memiliki nilai layak berita jika di dalamnya ada unsur kejelasan (Clarity) tentang kejadiannya ada unsur
kejutannya (Surprise), ada unsur
kedekatannya (Proximity) secara geografis,
serta ada dampak (Impact) dan konflik
personalnya. Jika diringkas nilai berita itu tidak lebih daripada asumsi -asumsi
intuitif wartawan tentang apa yang menarik bagi khalayak tertentu, yakni apaa yang
mendapat perhatian mereka.[4]
Berkaitan dengan
nilai berita ada beberapa pendapat sesuatu dikategorikan mempunyai tentang
kriteria nilai berita. John Galtung dan Marie Holmboe Ruge 1965 ( dalam Nurudin 2009:52 )
pernah memberikan kriteria yaitu
frekuensi, negative bad news is good news, tak terduga, Personalisasi peristiwa, Kepenuhartian
atau cultural proximity, Berkaitan
dengan pemimpin Negara, Berkaitan dengan individu, Konflik, Prediksi, penting,
besar, aktulitas, kedekatan, tenar, human interest. Sedangkan pendapat lain
disebutkan oleh Curtis D. MacDougall dalam bukunya Interpretative Reporting menyebutkan lima syarat yaitu Timlines, Proximity, Prominence, Human
Interest dan Consequence. Dengan Kriteria tersebut maka nilai beita dapat
ditarik jika mempunyai elemen-elemen nilai berita.
Elemen nilai berita yaitu sebagai
berikut :
1. Immediacy,
kerap disitilahkan dengan timelines
atau aktualitas. Artinya terkait dengan kesegaran peristiwa yang dilaporkan.
Sebuah berita sering dinyatakan sebagai laporan dari apa yang baru saja
terjadi. Bila peristiwanya terjadi beberapa waktu lalu, hal ini dinamakan
sejarah. Unsur waktu amat penting disini.
2. Proximity,
jarak. khalayak berita akan tertarik dengan berbagai peristiwa yang terjadi
didekatnya, disekitar kehidupan sehari-harinya. Proximity ialah keterdekatan
peristiwa dengan pembaca atau pemirsa dalam hidup mereka. Orang-orang akan
tertarik dengan berita-berita yang meyangkut kehidupan mereka, seperti keluarga
atau kawan-kawan mereka atau kota-kota mereka beserta klub-klub olahraga,
stasiun, terminal, dan tempat-tempat yang mereka kenali setiap hari.
3. Consequence,
akibat. berita yang mengubah kehidupan pembaca adalah berita yang mengandung
nilai konsekuensi. Misalnya dengan lewat berita kenaikan gaji pegawai atau
kenaikan harga BBM, masyarakat dengan segera akan mengikutinya karena terkait
dengan konsekuensi kalkulasi ekonomi sehari hari yang harus mereka hadapi.
4. Conflict,
peristiwa-peristiwa perang, demonstrasi atau criminal merupakan contoh elemen
konflik di dalam pemberitaan. Perseteruan antar individu, antar tim atau
kelompok, sampai antar Negara, merupakan elemen-elemen natural dari
berita-berita yang mengandung konflik.
5. Oddity,
peristiwa yang tidak biasa terjadi ialah sesuatu yang akan diperhatikan segera
oleh masyarakat. Kelahiran bayi kembar lima, goyang gempa berskala richter
tinggi, pencalonan tukang sapu sebagai kandidat calon gubernur dan sebagainya,
merupakan hal-hal yang akan jadi perhatian masyarakat.
6. Sex,
sex kerap menjadi satu elemen utama dari sebuah pemberitaan, tapi seks sering
pula menjadi lemen tambahan bagi pemberitaan tertentu, sperti pada berita
sport, selebritis, atau criminal. Berbagai brerita artis hiburan banya dibumbui
dengan elemen sek. Berita politik impeachment as Bill Clinton banyak terkait
dengan unsur seksnya.
7. Emotion,
elemen ini kadang dinamakan elemen human interest elemem ini menyangkut
kisah-kisah yang mengandung kesedihan, kemarahan, simpati, ambisi, cinta,
kebencian, atau humor. Elemen emotion dengan komedi, atau tragedy. Unsur human interest dalam berita :
Ketegangan ( suspense ). Ex pembacaan sidang, Ketidaklaziman ( unsualness )
bayi kembar lima, Minat pribadi ( personal interest ) tukang urut bisa bikin
langsing, Konflik, Simpaty, Kemajuan , Seks, Usia, Humor.
8. Prominence,
cuatan ketermukaan. elemen ini adalah unsur yang menjadi dasar istilah “names
make news” nama membuta berita. Ketika seseorang menjadi terkenal maka ia akan
selalu diburu oleh pencari berita . unsur keterkenalan ini tidak bisa dibatasi
atau hanya ditujukan kepada status VIP semaa. Beberapa pendapat, tempat, dan
peristiwa termasuk ke dalam elemen ini. Contoh Bali petuah-petuash hidp dan
hari raya memiliki elemen keterkenalan yang diperhatikan banyak orang.
9. Suspense,
ketegangan elemen ini menunjukan sesuatu yang ditunggu-ditunggu, terhadap
sebuah peristiwa, oleh masyarakat. Adanya ketegangan menunggu pecahnya perang (
invasi ) AS ke irak adalah salah satu contohnya. Namun, elemen ketegangan ini
tidak terkait dengan paparan kisah berita yang berujung pada klimaks
kemisterian. Kisah berita hyang menyampaiakan fakta-fakta tetap merupakan hal
yang penting. Kejelasan fakta dituntut masyarakat. Contoh pada kasus bom bali
tetap mengandung kejelasan fakta.
10. Progress,
kemajuan elemen ini merupakan elemen “perkembangan” peristiwa yang ditunggu
masyarakat. Contoh kesudahan invasi militere amerika di irak masih ditunggu
masyarakat atau terdapat virus yang berkembangan misal sars maka beritanya akan
tetap ditunggu oleh masyarakat.[5]
Contoh Kasus Nilai Berita
Banyak
opini dalam masyarakat yang menyebutkan bahwa pola pemberitaan media televisi
(dalam hal ini tvOne) dalam kasus terorisme terutama penangkapan terorisme di
Temanggung terlalu berlebihan dan disiarkan seperti sebuah tontonan. Siaran
langsung tvOne sangat detail detik demi detik, dengan reportase yang kurang
memperhatikan akurasi fakta dan data. Reporter tvOne terlalu dini membuat fakta
sendiri bahwa yang diserbu didalam rumah adalah gembong teroris Noordin MTop.
Bahkan ketika teroris yang berada didalam rumah dinyatakan tewas, tvOne
mengatakan bahwa Noordin MTop sudah tewas, tanpa menunggu penjelasan sumber
resmi.
Peristiwa
terorisme, merupakan peristiwa yang menarik bagi pers untuk diangkat sebagai
berita. “Bad news is good news”
merupakan jargon yang begitu populer di dunia jurnalistik, di mana pekerja
media akan saling bersaing untuk memperoleh materi yang akan diberitakan. Pemikiran
teoritis yang digunakan adalah pemikiran Potter mengenai “news value” dan “etika media” dan Kovach terkait dengan Sembilan elemen
jurnalistik, digunakan dua prinsip yaitu loyalitas, dan verifikasi dalam
memandang kasus berita ini. Lambatnya perkembangan peristiwa dilapangan
menyebabkan tvOne acapkali melakukan repetisi dan menayangkan filler (sisipan)
untuk mengisi kekosongan berita, yang berdampak pada “ketidak tepatan waktu”
atau tertunda sebanyak dua puluh satu persen (21%).
Kriteria
yang digunakan untuk menilai kelayakan pemberitaan penyergapan terorisme
seperti unsur kebaruan peristiwa dalam hal ini ketepatan waktu (66%), tokoh
penting (keterkenalan-prominence) (tokoh teroris 92%, narasumber 94%), dan
kontrofersi-pertentangan (57%) telah terpenuhi. Terungkapnya nilai berita pada
tayangan ini dilengkapi dengan penayangan yang menarik (52%), dramatis (70%),
dan penggunaan gaya bahasa hiperbolik (50%) dengan cara penyampaian yang
deskriptif melengkapi pengungkapan nilai berita pada tayangan ini. Jurnalis
berita dalam praktik kerjanya sering menghadapi konflik antara kelayakan berita
dan standar etika. Unsur akurasi mencapai (1%) dan obyektifitas 99%. Unsur fairness
tidak terdapat sama sekali dalam tayangan ini, yang dapat dimaknai bahwa tvOne
dalam tayangannya masih ada keberpihakan pada kepentingan media sendiri
(tvOne), yaitu pemberitaan eksklusif.
Dilema
etika masih muncul disini terkait dengan pengulangan- pengulangan (repetisi)
gambar sebanyak sembilan ratus sembilan puluh Sembilan (999) kali dan repetisi
informasi sebanyak tujuh ratus delapan puluh Sembilan (789) kali. Repetisi
tergambarkan sebagai upaya untuk memperdaya atau membohongi khalayak, yang
menghasilkan berita sensasi yang didramatisasi sehingga penyajian berita
menjadi berlebih-lebihan. Pada akhirnya dalam tayangan ini tvOne belum mampu
berpihak pada kepentingan publik, dalam arti loyalitas yang diberikannya masih
terbatas sehingga fungsi edukatif yang dibawa oleh televisi belum mampu
menghadirkan sebuah masyarakat yang mulai menghargai informasi.
Sebagai
komoditas berita kriminal, peristiwa teroris tentu menjadi berita yang biasa
disajikan media untuk mempertahankan minat pemirsanya. Namun dengan melihat
dari perspektif etis pemberitaan, perlu dipersoalkan lebih lanjut kehadiran
berita-berita tersebut yang diberi sentuhan sesasi karena berdampak luas pada
masyarakat. Jurnalis dituntut untuk mampu menegakkan landasan moral dan etika
profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan
menegakkan integritas serta profesionalisme.[6]
C.
KESIMPULAN
DAN SARAN
Nilai
berita merupakan bagian dari penyajian sebuah berita yang perannya amat krusial
dan pemahaman nilai berita merupakan hal wajib yang harus diketahui oleh para
jurnalis dalam menyusun berita. Nilai berita sendiri yaitu merupakan prinsip
layak atau tidak layaknya sebuah berita. Dalam nilai berita terdapat 10 elemen
yaitu Immediacy , Proximity, Consequence, Conflict, Oddity , Sex, Emotion, Prominence, Suspensse, Progres. Dengan jurnalis yang
selalu mengutamakan nilai berita yang baik dan positif serta memperhatikan elemen
nilai berita maka jurnalis telah mampu menyajikan sesuatu yang berbobot dan
berkualitas kepada khalayak dengan demikian masyarakat akan terhindarkan dari
dampak yang kurang baik dan merupakan wujud produk jurnalisme yang jujur, aktual
dan terpercaya. Jurnalisme tidak hanya memiliki kewajiban untuk memberikan
pengetahuan dan pemahaman yang diperlukan masyrakat, tetapi juga memberikan
sebuah forum kepada masyarakat untuk membangun ikatan yang mengembangkan
masyarakat ( Kovack dan Rosentiel, 2001 ).
Contoh
mengenai kasus yang bersangkutan dengan nilai berita yang telah di jelaskan
sebelumnya menunjukan pada kita bahwa nilai berita dengan kualitas yang buruk
pada akhirnya akan membawa kerugian terhadap masyarakat atau khalayak bahkan
terhadap jurnalis yang menyajikan berita tersebut. Dengan demikian maka bisa
kita tarik kesimpulan bahwa tingkat kualitas nilai berita atau layak dan tidak
layaknya sebuah berita disajikan mempunyai dampak nyata dan dampak langsung
terhadap masyarakat atau khalayak oleh karena itu jurnalis yang punya kewajiban
untuk mampu menegakkan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman
operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta
profesionalisme, harus benar-benar diterapkan dan dilaksanakan oleh segenap
insan jurnalisme di mulai dengan hal sederhanya yaitu memahami betul dan
tertanam tentang apa itu nilai berita sehingga mudah diaplikasikan. Insan
jurnalisme senantiasa harus memegang teguh etika jurnalisme dan memiliki
integritas serta konsistensi. Dan pada akhirnya public dan khalayak sebagai
bagian yang penting tidak akan dirugikan ataupun dibodohi.
D.
DAFTAR
PUSTAKA
Aminuddin
Sofiati, Evie. (2011). Nilai Berita dan Etika Media Dalam Tyangan Liputan
Penyergapan Teroris di Temanggung. Tesis Pendidikan Strata 2 Magister Ilmu
Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang : tidak diterbitkan.
Barus Willing . 2010.
“Jurnalistik : Petunjuk Teknis Menulis Berita” Jakarta : Erlangga
Ishwara,
Luwi . 2005. “Catatan-catatan Jurnalisme Dasar” Jakarta : PT Kompas Media Nusantara
Nurrudin
. 2009. “Jurnalisme Masa Kini” Jakarta :
PT Raja Grafindo Persada
Kusumaningrat,
Hikmat dan Purnama. 2005. “Jurnalistik
Teori dan Praktik” Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Santana, Setyawan.
2005. “Jurnalisme Kontemporer”
Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
Wibowo
Wahyu. 2005. “Menuju Jurnalisme Beretika” Jakarta : PT Kompas Media Nusantara.
[1] Luwi Ishwara ,
Catatan-catatan Jurnalisme Dasar, PT Kompas Media Nusantara, Jakarta, 2005, hlm. 53.
[2] Setyawan
Santana, Jurnalisme Kontemporer, Yayasan Obor Indonesia Jakarta 2005. hlm. 17
[3] Michael Kunczik,
Concepts of Journalism, North and South, Frederich Ebert Stichtung, Bonn, 1984.
[4]
Hikmat dan
Purnama Kusumaningrat, Jurnalistik Teori dan Praktik, PT Remaja Rosdakarya
Bandung,2005 hlm 58
[6] Evie Sofiati Aminuddin, Nilai Berita dan Etika Media
Dalam Tyangan Liputan Penyergapan Teroris di Temanggung. Tesis Pendidikan
Strata 2 Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar