• teknologi komunikasi esai 5

    NEW MEDIA AND SMALL GROUP ORGANIZING
    ( Media baru dan lingkup organisasi kelompok kecil )


    New Media And Small Group Organizing, Dari membaca judul tersebut pasti orientasi yang kita pahami menjurus terhadap pembahasan tentang keterkaitan antara media baru dan kelompok kecil namun sesungguhnya konteks yang benar dari judul tersebut yang diambil dari karya Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, dalam Handbook of New Media : Social Shaping and Social Consequences of ITCs, adalah pembahasan tentang peranan media dan bagaimana teknologi mendukung sebuah pekerjaan manusia dimana pekerjaan ini melibatkan orang lain atau terdiri dari beberapa orang pada suatu tempat kerja.
    Meskipun dengan teknologi pekerjaan dari sebuah kelompok dapat terbantu namun hal ini memunculkan sebuah perubahan dari konsep kelompok itu sendiri, teori-teori terdahulu yang membahas mengenai kelompok kini menjadi kurang relevan dengan keadaan saat ini ataupun tidak relevan dengan perkembangan zaman yang amat pesat. Oleh karena itu banyak dari peneliti yang tengah memikirkan kembali tentang definisi dan konsep kelompok, selain itu para peneliti juga mengembangkan teori-teori baru untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku orang-orang yang merupakan anggota kelompok serta merancang metode baru untuk belajar mereka. Dan hal yang sangat menarik yaitu kenyataan bahwa teknologi mampu membentuk perilaku kelompok, dan berlaku pula sebaliknya yaitu teknologi dapat dibentuk oleh perilaku kelompok.  Hal ini di dukung oleh pernyataan para ahli yaitu sebagai berikut :
    Dengan adanya teknologi membuat konsep kelompok menjadi berubah, karena kelompok tidak harus lagi mendaftar, melakukan tatap muka, dan waktu dan tempat tidak harus ditentukan karena kelompok bisa terbentuk kapan saja. Jadi penelitian ini memeriksa cara media baru pengganti disajikan guna memperbesar komunikasi di antara anggota grup (Contractor and   Bishop,   2000).

    Kebanyakan kelompok yang ada sekarang sudah tidak bisa disebut murni sebagai kelompok tradisional hal ini terjadi karena adanya perbedaan pola sebuah kelompok sebelum dan sesudah adanya teknologi baik berupa media baru internet. Banyak  dari mekanisme sebuah kelompok tidak lagi menggunakan cara-cara tradisional, misalnya yaitu ketika kita ingin bergabung ke dalam sebuah kelompok kita harus melakukan pendaftaran terlebih dahulu dengan waktu dan tempat yang telah ditentukan dan menuntut kita untuk terjadinya interaksi tatap muka secara langsung, namun kini kebanyakan kelompok sudah tidak perlu menggunakan mekanisme seperti itu lagi karena sekarang kelompok bisa terbentuk kapan saja terlebih bagi orang-orang atau siapapun yang punya minat dan interest yang sama bisa dengan mudah masuk dalam sebuah kelompok karena tidak adanya pertimbangan tentang tempat dan waktu serta besar kecilnya ukuran kelompok tersebut.
    Hal-hal tersebutlah yang menyebabkan adanya berbagai perbedaan antara kelompok yang terbentuk secara tradisional dengan kelompok yang terbentuk melalui teknologi. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya maka perbedaan yang paling kentara yaitu tentag persoalan waktu, tempat, struktur dan ukuran besar kecilnya kelompok. Kemudian perbedaan dari identitas maka kelompok tradisional punya identitas yang lebih jelas ketimbang kelompok yang terbentuk melalui teknologi anggotanya cenderung anonim (tanpa nama) sehingga identitas dari anggota kelompok kurang memadai. Hubungan antar anngota juga dalam kelompok tradisional lebih erat sedangkan kelompok yang terbentuk melalui teknologi memiliki hubungan interpersonal yang rendah karena mereka hanya berfokus pada penyelesaian tugas. Kelompok ini juga sulit mendapatkan konsensus.
    Selain menimbulkan perbedaan, kelompok  denagn sebelum dan sesudah adanya teknologi juga menimbulkan sebuah persoalan, dan persoalan tersebut berkaitan dengan pola komunikasi dan interaksi anggota kelompoknya dimana sebelum adanya internet, orang-orang mengirim informasi melalui telepon, telegram, fax, dan lainnya. Kemudian adanya  permasalahan karakteristik yang dimiliki sebuah kelompok karena dengan teknologi kelompok dapat merubah struktur organisasinya serta mengubah identitas dirinya, contohnya yaitu tidak adanya kejelasan tentang posisi missal seorang ketua atau admin yang berada dalam sebuah kelompok bisa memiliki peran lebih darisatu yaitu bisa menjadi follower sekaligus bisa menjadi  leader.
    Berkaitan dengan penjelasan sebelumnya kini kita akan lebih berfokus pada pembahasan kelompok yang terbentuk karena teknologi, teknologi merupakan perangkat yang tidak bisa berdiri sendiri harus ada perangkat pendamping dan yang menoperasikan, oleh karena itu untuk mengoptimalkan kinerja teknologi dalam membantu pekerjaan dibutuhkan sebuah system.  Sistem yang diperlukan ini dapat berupa sebuah sistem pendukung komunikasi baik secara eksternal maupun internal. Sistem pendukung tersebut adalah GCSS, GISS, GXSS, dan GPSS.  GCSS, merupakan supporting system yang membantu anggota kelompok untuk berinteraksi satu sama lain. GISS GISS, merupakan supporting system yang menyediakan berbagai informasi uang diperlukan oleh anggota kelompok dalam menyelesaikan tugas. GXSS, merupakan supporting system yang membantu anggota kelompok untuk berinteraksi dengan pihak luar kelompok seperti stakeholder dan lainnya. GPSS, merupakan supporting system yang mendukung fungsi kerja organisasi pada umumnya.
    Disamping itu banyak para ahli yang menjabarkan tentang teori kelompok yang terbentuk dari teknologi, teori-teori tersebut diantaranya yaitu : teori struktural adaptif  muncul dikarenakan dahulu kita memilih dan menggunakan teknologi berdasarkan kebutuhan kita, Namun, saat ini bukan lagi kita yang mengatur teknologi tapi teknologi yang mengatur kita dalam berhubungan dengan orang lain. Hal ini juga membuat kelompok berubah sejak menggunakan teknologi. Dengan demikian sebuah kelompok harus memiliki karakter sendiri dan alangkah baiknya jika karakter yang dimiliki tersebut adalah karakter yang berpendirian dan kuat.
    Selanjutanya dikemukakan oleh Short et al. (1976) yang  mengusulkan model kehadiran sosial untuk memprediksi individu yang akan menggunakan media untuk beberapa jenis interaksi. Munculnya model kehadiran sosial ini untuk memprediksi penggunaan media sesuai dengan fungsi kerja yang dibutuhkan oleh individu dalam berinteraksi dan untuk menyelesaikan tugasnya. Contohnya yaitu dalam pekerjaan dengan kegunaan dan fungsi low media ketika kita butuh bertransaksi dan dengan kegunaan dan fungsi  high media ketika kita tengah melakukan teleconference maupaun face to face.
    Adanya teknologi pasti tidak terlepas dengan adanya sebuah efek dan efek media hadir karena adanya pemilihan media, McGrath dan Hollingshead (1993; 1994) menyatakan bahwa interaksi kelompok dan kinerja sangat dipengaruhi oleh jenis dan kesulitan tugas yang dilakukan oleh kelompok, dan bahwa efek teknologi pada antar-tindakan dan kinerja kelompok berinteraksi dengan jenis tugas.  McGrath dan Hollingshead mengemukakan bahwa tugas-tugas kelompok berbeda dalam persyaratan kekayaan informasi mereka, media komunikasi berbeda dalam kekayaan informasi yang mereka dapat. Komunikasi tatap muka antar interpersonal yang melibatkan manusia adalah media terkaya; komunikasi dalam bentuk tertulis antara orang asing adalah yang paling kaya. McGrath dan Hollingshead (1994) juga meramalkan bahwa teknologi komunikasi dapat memberikan informasi yang meningkatkan kekayaan dari waktu ke waktu, sebagai kelompok belajar bagaimana menanamkan emosi, sikap, normatif dan tambahan makna lainnya melalui pengalaman lanjutan.
    Dengan demikian kelompok atau grup kini telah menjadi sebuah system yang kompleks dan sebagai system yang mengatur diri yang dirumuskan dalam teori. Secara umum, teori sistem mengatur dirinya sendiri (SOST) berusaha untuk menjelaskan munculnya perilaku yang terpola dalam sistem yang awalnya dalam keadaan dis-organisasi menjadi lebih konseptual dan teori kompleksitas sebagai metafora (Kontraktor, 1999) telah dikembangkan untuk menangani kompleksitas penggunaan kelompok 'media baru: kelompok sebagai sistem yang mengatur dirinya sendiri (Kontraktor dan Seibold, 1993 , Kontraktor dan Whitbred, 1997).
    Terdapat banyak peneliti dan Sejumlah sarjana telah menulis sastra ulasan yang meneliti teknologi komunikasi dan kelompok (misalnya Benbasat dan Lim, 1993; Hollingshead dan McGrath, 1995; Kiesler dan Sproull, 1992: dan Pinsonneault, 1990; McGrath dan Hollingshead, 1994; McLeod, 1992; 1996; Seibold et al, 1994.; Williams, 1977). sebagian besar ulasan ini telah membandingkan proses interaksi dan hasil dari kelompok computer yang dimediasi dengan orang-orang dari tatap muka kelompok. Mereka juga meneliti pola interaksi bahwa kelompok-kelompok berinteraksi melalui komputer memiliki partisipasi yang lebih setara antara anggota dari kelompok berinteraksi tatap muka ( misalnya Clapper et al , 1991: . . Daly , 1993; Dubrovsky et al ,1991; George et al , 1990. ; Hiltz et al , 1986. ;McLeod , 1992; Beras , 1984; Siegel et al , 1986. ; Straus , 1996; Straus dan McGrath , 1994; Zigurs et al . , 1988) .
    Namun Sangat sedikit studi telah menunjukkan bahwa kelompok-kelompok berkomunikasi melalui komputer berperforma lebih baik dibandingkan kelompok berinteraksi tatap muka ( diulas melihat McGrath dan Hollingshead , 1994; McLeod , 1992; 1996 ) . Dengan adanya perubahan konsep kelompok maka kami ditawarkan sebuah rekonseptualisasi yaitu dengan konseptualisasi penggunaan kelompok 'media baru dari perspektif jaringan pengetahuan. Komputer dapat meningkatkan jangkauan, kedalaman dan kecepatan dengan mana informasi dapat diperoleh, diproses, disajikan untuk digunakan dan bersama untuk upaya kolaboratif. Kelompok atau grup sebagai pengetahuan juga dapat memiliki potensi untuk memberikan banyak manfaat bagi kelompok-kelompok dengan menghubungkan orang yang memiliki tujuan yang sama dan kepentingan tetapi dipisahkan dalam ruang dan waktu.
    Jadi inti dari pembahasan ini atau kesimpulan yang dapat ditarik yaitu Kelompok yang terbentuk melalui teknologi berbeda dengan kelompok tradisional, perbedaan secara signifikan terletak pada pada ukuran/kuantitas kelompok yang berpengaruh pada proses pengiriman informasi untuk menyelesaikan pekerjaan. Internet juga memberikan pengaruh, terutama dalam hal karakteristik dan identitas anggota kelompok. Perkembangan teknologi dapat mengubah sifat bekerja dalam kelompok. Dengan demikian teknologi ini juga, dapat menghubungkan orang yang memiliki tujuan yang sama dan kepentingan yang dipisahkan dalam ruang dan waktu yang memiliki pengaruh dalam mengoptimalkan dan mengektifkan sebuah tugas dan pekerjaan dari kelompok tersebut. 


    DAFTAR PUSTAKA:

    Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of New Media : Social Shaping and    Social Consequences of ITCs, Chapter 5  New Media and Small Group Organizing. Sage             Publication Ltd. London. 
  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

SUBSCRIBE

Text Widget

Followers

Instagram

Pages

recent posts

Video of the Day

Flickr Images

Like us on Facebook

Flickr Images

Popular Posts