KAU
Minggu
sore ini tampaknya cuaca sedang cerah dan bersahabat, sangat cocok untuk bersantai dan
berjalan-jalan sore, ataupun bercengkerama dengan keluarga. Tapi sayang
keindahan ini bukan untukku, hatiku sedang resah kali ini, sudah sejak tadi aku
termenung di bangku taman menunggu teman dekatku yang hampir dari satu jam lalu
tak kunjung datang memenuhi janjinya untuk bertemu denganku. Kami berjanji akan
bertemu di taman kota untuk melepas rindu yang selama hampir setahun kami tidak
bertemu, karena aku harus melanjutkan studiku di luar kota.
“fyuuh~”
aku menghela nafas untuk kesekaian kalinya, aku bingung haruskah aku pulang
atau tetap menunggunya, dia juga tak kunjung datang dan tak kunjung dapat
kuhubungi. Hingga beberapa saat kemudian
“Plak”
seseorang menepuk pundaku dengan keras,
“arghh”
teriaku cukup kesakitan aku berbalik berniat memaki orang tersebut namun dalam
sekejap kuurungkan niatku ketika melihat senyum terkembang diwajahnya, yaa dia
adalah sahabatku sejak SMA dulu, Afi namanya dengan tubuh kurus dan tingginya
yang menjulang dia berdiri dibelakangku.
“Bruuk”
dia pun reflek memelukku.
“Kau
tambah gendut” itulah kata-kata pertama yang terlontar dari mulutnya setelah
sekian lama kami tidak bertemu, kata-kata yang sesungguhnya sangat tidak aku
sukai meskipun beberapa kali aku mendengarnya.
“Dan
kau semakin seperti tiang listrik” jawabku.
“hahaha”
dia tertawa nyaring “tumbuh itu ke atas bukan kesamping” adalah kata
selanjutnya yang terlontar dari mulutnya, mengutip iklan yang selalu muncul di
TV dan sangat mengena padaku,, ya bobotku memang bertambah karena harus tinggal
di kota besar dimana terdapat surga kuliner yang tidak bisa kutolak.
“aku
sehat dan orang tuaku memberiku makan tidak sepertimu, lihat badanmu kau pikir
badanmu yang seperti tiang listrik itu bagus apa?” dan jawabanku membuatnya
tertawa kembali.
Setelah
kami duduk dengan tenang akupun segera menanyakan akan sebab musabab
keterlambatannya. “maaf aku tidak sengaja, aku tidak berniat untuk terlambat
tadi ada sedikit urusan.” jawabnya atas pertanyaanku,
”urusan
apa?” tanyaku penasaran “kita sudah kenal bukan sehari dua hari jadi aku ingin
tau apa urusanmu” ucapku sedikit memaksa.
“sebenarnya
tadi aku harus menyelesaikan pekerjaanku
dulu tadi, sekarang aku bekerja paruh waktu”. Deg Deg Afi membuatku terkejut
kali ini.. Apa mungkin aku salah dengar ? tapi sepertinya tidak. Tapi seorang
Afi bekerja, oh no rasanya sulit dipercaya, seperti yang aku katakan tadi aku
mengenalnya bukan sehari atau dua hari kami sudah saling mengenal selama
bertahun-tahun meski tidak selalu bersama.
Ketika
di SMA Afi adalah seseorang yang punya gaya hidup hedon, dia sangat suka
belanja terutama untuk urusan fashion
hampir setiap minggu dia akan punya baju baru dan setiap pulang sekolah dia
pasti akan punya jadwal untuk pergi hang
out, entah sekedar makan ataupun pergi karaoke. Wajar sebenarnya jika dia sangat
suka hang out dan belanja, dia lahir
dari keluarga yang telah mapan dan ayahnya bekerja diluar kota. Dulu aku sangat
jarang ikut pergi bermain bersama Afi ataupun teman-temanku yang lain, aku jarang
ikut bersenang-senang dengan mereka karena aku akan lebih memilih membantu
ibuku mencuci piring dirumah selain itu akupun merupakan orang yang terkenal hemat
di SMA jarang mengeluarkan uang untuk bersenang-senang, mungkin terkesan pelit
tapi itu semua karena aku menyadari bahwa aku berasal dari keluarga menengah
kebawah dimana ayahku harus siang malam banting tulang untuk mendapatkan uang.
Karena itulah aku menyadari bahwa aku harus
menggunakan uang sakuku dengan bijak. Harus kuakui terkadang aku memang iri
dengan teman-temanku yang memang lahir dari keluarga yang berlebih meskipun
begitu sebetulnya akupun mampu untuk mengikuti gaya hidup mereka dengan uang
sakuku yang cukup lumayan tapi sekali lagi aku memilih untuk tidak melakukannya
meskipun Afi sering marah karena aku tidak mau ikut dan dia juga yang bercerita
kalau teman-teman tidak suka dengan sikapku yang jarang sekali ikut
bersenang-senang, mereka jadi malas untuk menawariku karena sudah tahu
jawabanku yang akan berkata ‘tidak’, tapi mereka juga enggan padaku jika tidak
basa-basi padaku, dan Afi lah yang selalu di utus untuk melakukannya.
Ahh
karena melamun aku hampir lupa dengan keterjutanku.
“Kau bekerja Af ?” “apa tidak salah ?
bagaimana bisa ?” tanyaku menggebu
“kalau bekerja pasti ya cari uang memangnya
apa lagi ?” jawab Afi santai.
“tapii..”
belum selesai aku bicara Afi sudah memotong pembicaraanku
“ayahku
pensiun, ayahku mulai sakit-sakitan dan tidak
kuat jika harus bekerja berat dan
ayahku juga seorang wirawasta jadi kami tidak memiliki uang pensiunan ” ucapnya
dengan santai, berbeda dengan raut wajahku yang tiba-tiba berubah kecut.
‘teman
macam apa aku ini terlalu sibuk dengan diri sendiri sampai tidak tahu kalau
sahabatku sedang kesulitan’ umpatku dalam hati.
“Hei
jangan kaget begitu biasa saja” ujarnya. “apa kau baik-baik saja? maaf aku tidak
tau”. aku tertunduk lesu dan dia tersenyum samar. “Pasti ini berat untukmu
kan?” lanjutku.
“Bohong
jika aku bilang ini mudah, sekarang semuanya berbalik seratus delapan puluh
derajat, aku harus berjuang untuk bertahan hidup baik untuk makan dan kuliahku,
dan ini tak pernah terbayang sedikitpun olehku”. ungkapnya miris. Untuk
beberapa saat kami terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing,
“haaah
sungguh sulit dipercaya temanku yang satu ini bisa bekerja juga, aku yakin ini
sangat berat untuknya yang terbiasa bersenang-senang dan hidup nyaman,
perasaanku aneh saat ini aku cukup perihatin dengan musibah yang menimpannya
namun di satu sisi aku bersyukur karena dia sudah tidak menjadi anak manja lagi
dan mampu berusaha untuk dirinya sendiri dan keluarganya.
“sudah berapa lama kau bekerja”? tanyaku lagi.
“ya
hampir satu tahun sejak kita berpisah”
jawabnya datar
“ohh”
jawabku apa adanya tak meyangka bahwa temanku ini benar-benar sudah
bertranformasi menjadi wanita tangguh dan tiba-tiba aku menjadi merasa
tertinggal jauh darinya, di usiaku yang memasuki kepala dua ini aku belum mampu
berbuat sesuatu yang membanggakan.
Lalu
kembali kesunyian melanda kami. Tes tes tes, tiba-tiba aku melihat air mata mengalir dari
matanya meski hanya sebentar karena dia langsung menghapus air matanya.
“kau
menangis, ?” tanyaku memberanikan diri
“ya
dan, menangis itu tidak berarti sedih… aku menangis karena bahagia gara-gara
kau juga aku bisa bertahan dan kalau ingat dulu aku jadi merasa lucu”? “kau tau dulu aku membencimu” ucap Afi dengan
nada serius dan membuatku terpaku dan dadaku berdegup kencang namun hilang
setelah melihat ia memberi senyum tipisnya padaku.
“aku
dulu benar-benar membencimu dirimu yang pelit !!, aku selalu merasa kau orang
yang pelit untuk dirimu sendiri dan aku juga membencimu yang tidak kompak dan
jarang sekali kau mau bergabung dengan kami padahal dulu ku kira kita
benar-benar teman yang kompak ? tapi kau membuat teman-teman sering kecewa padamu”
ungkap Afi padaku meskipun aku sudah tau jelas akan hal itu, yaa teman-teman
memang tidak terlalu suka padaku dulu karena aku yang selalu menghindar dan tak
pernah ikut mereka bersenang-senang.
“tapi
sekarang aku tau.. waktu aku membencimu dulu ternyata dulu kau sedang
mengajariku dan mengajari kami semua, dan aku baru menyadarinya sekarang, kau
bukanlah orang yang pelit , kau hanya seorang yang memilih untuk bijak, kami
semua dulu tidak pernah belajar apa itu susah dan apa itu berhemat dan justru
kami memebencimu yang sedang mengajari kami, kami pikir dulu kau sangat tidak
asyikk hahahaha”. tambah Afi dengan tawa sumbangnya dan aku hanya tersenyum
tipis.
“syukurlah
kalau begitu jika dengan membenciku kau bisa belajar jadi lebih baik, aku malah
senang dan sekarang aku malah merasa kalah denganmu.” jawabku meski aku masih
terpaku dengan pernyataannya.
“apa
dulu kau tidak takut tidak memiliki teman, aku sering takut tidak punya teman
jadi aku selalu ikut mereka bersenang-senang ?” tanyanya lagi
“apa
sekarang kau temanku Af ?” tanyaku
“Huh?”
Tanya Afni bingung, “tentu saja aku temanmu”
“lalu
apa yang harus kau takutkan Af, kau hanya perlu menjadi diriku sendiri tanpa
pusing harus jadi orang lain, teman ada bersama bukan hanya untuk
bersenang-senang tapi juga untuk bersusah-susah..” jawabku lembut
“kau
mulai ceramah lagi dan aku benci diceramahi olehmu..” jawab Afi dengan nada
malas yang dibuat-buat.
“kalau
begitu bencilah aku terus biar kau terus belajar dan nanti aku juga akan
membencimu agar aku bisa belajar darimu…”
“hahahahahah”
tawa Afi menggelegar tak lama akupun ikut tertawa bersamanya sambil menikmati
indahnya minggu sore ini dan mataharipun lambat laun mulai kembali ke
peraduannya, aku dan Afi tidak pernah ingat waktu jika sudah bersama seperti
ini dan aku harap selamanya.
Yaah beginilah cara kami bersahabat kami akan
selalu saling belajar satu sama lain, terus dan terus, ya kami selalu saling
mendukung dengan cara kami tentunya karena dunia akan selalu berputar… keatas
dan kebawah….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar