IKLAN MEDIA CETAK
Iklan Media Cetak
Review
:
Sejarah perkembangan iklan tidak bisa dilepaskan dari
sejarah surat kabar. Perkembangan sejarah iklan dan surat kabar dimulai dari
zaman penjajahan di Indonesia. Pada jaman penjajahan, Indonesia
lebih dikenal dengan nama Hindia Belanda. Indonesia telah diajajah oleh
beberapa negara salah satunya adalah Belanda. Belanda telah menjajah Indonesia
tiga setengah abad lamanya. Tidak heran jika Belanda memiliki kekuasaan yang
sangat besar dalam menjajah Indonesia, dengan mendirikan sebuah organisasi
dagang yang bernama Verenigde Nederlandsche Oost-Indische Compagnie atau yang
biasa dikenal dengan VOC.
Percetakan
dikenal sejak kedatangan Belanda pada jaman Verenigde Nederlandsche
Oost-Indische Compagnie (VOC) dan para minoris karena telah munculnya rasa
kesadaran akan betapa penting manfaat pers. VOC menggunakannya untuk mencetak
peraturan-pertauran, sedangkan para minoris untuk menerbitkan literatur agama
dalam bahasa daerah.
Perkembangan iklan tak bisa dilepaskan dari perkembangan
surat kabar. Pada tahun 1744, dibawah pemerintahan Gubernur Jendral Gustaaf
Willem Baron Van Imhoff yang berpandangan liberal, untuk pertama kalinya
dilakukan uji coba penerbitan media massa cetak resmi milik pemerintah. Ia
memberikan izin kepada pedagang yang juga merangkap menjadi sekretaris kantor
Sekretariat Jenderal, Erdman Jordans, dalam jangka waktu 3 tahun untuk
menerbitkan surat kabar. Akhirnya pada tanggal 7 Agustus 1744, terbitlah surat
kabar dengan nama Bataviaasche Nouvelles.
Akan tetapi penerbitan surat kabar tersebut dianggap berbahaya oleh
pemerintah dan dianggap mengganggu stabilitas politik perdagangan karena
informasi yang disajikan begitu terbuka, maka oleh De Heeren Zeventien, dewan direktur VOC, surat kabar tersebut
diberhentikan.
Terdesak akan kebutuhan media informasi sebagai sarana
publikasi berita pelelangan yang diselenggarakan VOC, maka pada tahun 1776
pemerintah kembali memberikan izin untuk membuka penerbitan surat kabar kepada L. Dominicus, seorang ahli
cetak di Batavia. Ia kemudian menerbitkan surat kabar mingguan yang diberi nama
Het Vendu Nieuws, yang memuat berita
pelelangan yang diselenggarakan perusahaan-perusahaan dibawah VOC secara keseluruhan.
Surat kabar ini mampu bertahan dari tahun 1776 sampai 1809 dan melahirkan suatu
istilah umum bagi surat kabar yang disebut sebagai surat lelang atau berita
lelang, namun tak lepas dari pengawasan pemerintah yang lebih ketat terhadap
isi pemberitaan surat kabar ini terutama jika menyangkut pemberitaan tentang
pemerintahan, pertahanan, dan situasi sosial yang berlangsung pada masa itu.
Pada
1615 terbit Memorie De Nouvelles yang berupa sebuah berkala tulisan tangan.
Sejak abad 16 pula Belanda dijadikan pusat penulisan silografi (tulisan tangan
indah) di Eropa. Tulisan tangan juga digunakan untuk iklan dalam bentuk poster.
Pada tahun 1619-1629, Jan Piterzoon Coen,
pendiri Batavia dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, untuk mengirimkan
berita ke pemerintah setempat di Ambon dalam Memorie De Nouvelles. Saat itu
Belanda dan Portugis terlibat perebutan hasil rempah-rempah di kepulauan Ambon, dan Coen “menulis” iklan
untuk melawan aktivis perdagangan Portugis. Jan Piterzoon Coen inilah yang
dianggap sebagai perintis penggunaan iklan di Hindia Belanda. Isi pesan Coen
berupa kutipan surat-surat, salinan berita surat kabar yang terbit di Eropa,
peraturan-peraturan penting, dan sebagainya.
Pada
8 Agustus 1744, Bataviasche Nouvelles
berdiri dan menjadi surat kabar pertama di Hindia Belanda yang
diterbitkan pada masa Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff.
Suratkabar itu bisa dikatakan sebagai lembaran iklan, karena sebagian besar
berita yang dimuat adalah iklan perdagangan, pelelangan, dan pengumuman-pengumuman
resmi pemerintah VOC. Yang berperan
dalam menyediakan kembali iklan bikinan Coen tersebut adalah seorang pedagang
merangkap sekertaris di kantor Gubernur Jendral, Jan Erdman Jordens, yang
mendapat izin pemerintah untuk menerbitkan suratkabar tersebut untuk tiga
tahun. Dengan demikian, iklan yang dimuatnya merupakan iklan pertama di Hindia
Belanda. Ini menunjukkan bahwa surat kabar dan iklan lahir bersamaan. Sejak itu
pula penerbitan pers bermunculan, yang disertai dan disokong oleh iklan.
Pada
masa Hindia-Belanda telah muncul penerbitan surat kabar dan sebagian surat
kabar yang terbit adalah surat kabar periklanan yang porsi terbesar
pemberitaannya berupa informasi perdagangan, iklan-iklan pemerintah, iklan jasa
transportasi, serta jasa-jasa yang lain baik yang bersifat komersial maupun
yang non-komersial. Industry pers mendapat pemasukan keuangannya dari para
pelanggan, keberlangsungan kehidupan industry pers pada masa itu banyak di
topang oleh pendapatan pemasangan iklan.
Adanya
perkembangan penting industry periklanan surat kabar diantara kurun waktu tahun
1870-1915-an yaitu dimana industry surat kabar menjadi ujung tombak komunikasi
pemasaran perdagangan serta sebagai motor penggerak aktivitas penciptaan desain
iklan sebagai penggerak aktivitas penciptaan desain iklan sebagai media
komunikasi visual yang artistic.
Sejarah
periklanan Indonesia tahun 1744-1984 yang merupakan proyek dari persatuan
perusahaan periklanan Indonesia (P3I) dengan ketua team penulisan dan
penelitian Batty Subakty.
Menurut
Von Faber di hindia-belanda periklanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari industry persuratkabaran. Sejak kemunculan pertamanya, surat kabar telah
menjadi media komunikasi yang banyak menyampaikan berita-berita iklan baagi
kepentingan pemerintah colonial maupun pengusaha swasta.
Iklan
sebagai media pemasaran mulai menciptakan konsep kreatif yang efektif dan
mengugah konsumen. Salah satunya dengan iklan testimonial, yakni strategi
periklanan modern dengan cara menggunakan pendapat, pernyataan, dan pujian dari
seseorang atau beberapa orang tokoh masyarakat terhadap suatu produk yang
diiklankan sehingga dapat membujuk dan meyakinkan konsumen yang membaca iklan
tersebut. Ini sudah terlihat dari iklan produk obat merek Adijsiroop yang
dimuat di surat kabar De Niuwe Vorstenlanden pada 17 Desember 1913, dengan
menampilkan ilustrasi wajah Raden Toemenggoeng Ario Djojomiseno, bupati
Banjarnegara.
Ilustrasi
sendiri merupakan bagian terpenting yang
fungsinya untuk memperjelas atau mempertegas juga sekaligus sebagai daya tarik
visual semua gagasan atau ide-ide penjualan yang terdapat dalam naskah iklan.
Ilustrasi dapt dikatakan sebagai aktivitas kreatif untuk menciptapkan
bentuk-bentuk atau gambaran visual yang bersifat estetik (indah) yang berfungsi
menjelaskan atau menerangkan isi teks iklan.
Contoh iklam :
Saya Raden toemenggoeng Ario
Djojomiseno, bupati Banjarnegara, menderita sakit dada sesak saat bernapas yang
luar biasa. Tiada satupun obat yang dapat menolong saya. Lalu, saya membeli
obat ABDIJSIROOP di Banjarnegarasche Commissiehuis. Sewaktu saya minum habis,
telah keluar dahak-dahak yang telah menggumpal sehingga saya dapat bernafas
dengan lega. Setelah saya menghabiskan 6 (enam) flacons (tabung) ABDIJSIROOP,
saya sembuh sama sekali dan sejak itu sehat walafiat. ABDIJSIROOP Klooster
Sancta Paulo adalah obat yang manjur untuk asma, malaria, influensa, bronkitis,
pleuris, dan semua gangguan sesak dada, paru-paru, dan tenggorokan. ABDIJSIROOP
memperkuat dada dan paru-paru, menghancurkan bibit penyakit dan dapat
menyembuhkan obat-obat lain yang gagal. Harga setiap flacons f. 1,75 dan kapsul
besar (dalam tabung yang dibungkus) f. 3,25.
Ilustrasi eksekusi iklan yaitu iklan
tersebut tampil dalam konsep penulisan naskah atau teks yang informatif, persuasif,
dan unik yang ditujukan pada segmentasi pembaca yang terarah. Iklan tersebut
secara sugestif juga memberikan pengaruh politis karena menampilkan pejabat
bumiputera yang memunyai otoritass tradisional maupun birokratis dalam struktur
pemerintah kolonial, dan ini merupakan terobosan yang bernilai kreatif tinggi.
Keberanian menampilkan tokoh kharismatik sebagai maskot penarik perhatian telah
mengukuhkan iklan produk Abdijsiroop sebagai pelopor penggunaan konsep kekuatan
politik dalam strategi komunikasi pemasaran. Naskah iklan yang didukung oleh
visualisasi yang imajinatif, unik, dan artistik itu secara keseluruhan berbeda
jauh dari iklan-iklan suratkabar lain di zamannya.
Sedangkan
Iklan surat kabar yang pertama yaitu setelah adanya
revolusi penting yang semakin memicu perkembangan dunia periklanan terjadi
ketika pada sekitar tahun 1440-an Johanes Gutenberg dari Mainz Jerman menemukan
mesin cetak yang memungkinkan iklan-iklan dapat disampaikan lewat
lembaran-lembaran cetakan. Pada abad ke-17, tepatnya sekitar tahun 1622 dengan
terbitnya surat kabar pertama di Inggris yaitu The Weekly News oleh
Nicholas Bourne dan Thomas Archer, semakin memberikan dorongan luar biasa atas
perkembangan periklanan dalam bentuk iklan surat kabar. Iklan surat kabar atau
media cetak berkembang secara pesat di Inggris ketika pada tahun 1709 Richard
Steele mendirikan surat kabar Tatler, dan
pada tahun 1711 bersama-sama rekannya Joseph Addison menerbitkan surat kabar
periklanan Spectator. Dalam surat
kabar yang didominasi lembaran iklan itu dimuat iklan-iklan personal
(pernikahan, kematian, mutasi pekerjaan dan lain-lain) serta lowongan
pekerjaan.
Kreativitas dalam perencanaan bentuk visual serta
keberagaman pesan yang disampaikan oleh iklan surat kabar pada masa akhir abad
19 dipengaruhi oleh faktor luar dan dari dalam industri pers.
Faktor dari luar (eksternal) yang mempengaruhi
kreativitas dalam perencanaan itu sendiri yang pertama adalah terbukanya
peluang investasi modal swasta secara langsung dalam bidang industri dan perdagangan
di Jawa. Kebijaksanaan politik liberalisasi perekonomian dari pemerintah
jajahan telah menyebabkan arus migrasi yang cukup besar dari warga kulit putih
eropa untuk menetap di kota-kota besar pulau Jawa. Menetapnya mereka sebagai
lapisan atas ini pada masyarakat jajahan di Jawa, telah membawa gaya hidup,
sistem nilai, serta kebudayaan, serta kebudayaan baru dari Barat yang disebut
sebagai kebudayaan modern. Proses modernisasin telah membawa nilai-nilai baru,
pola keinginan baru, dan kebiasaan-kebiasaan baru pada masyarakat Jawa.
Faktor kedua, pesatnya pertumbuhan ekonomi dan
industrialisasi semakin memicu besarnya arus penawaran aneka produk manufaktur
atau komoditas industri dan jasa-jasa modern bagi masyarakat konsumennya di
Pulau Jawa. Pertumbuhan perekonomian
telah menambah pendapatan perkapita bagi lapisan masyarakat terpelajar maupun
pekerja yang terserap dalam kegiatan industri sehingga memungkinkan
terbentuknya suatu masyarakat konsumen yang menjadi pasar potensial bagi
pemasaran produk industri maupun perdagangan perkotaan di Jawa.
Faktor ketiga, kebijaksaan politik etis oleh pemerintah
Hindia Belanda dengan diselenggarkannya pendidikan modern Barat bagi kalangan
masyarakat pribumi telah melahirkan suatu lapisan sosial baru dalam masyarakat
di Jawa.
Faktor keempat, berkembangnya kota-kota pelabuhan lama
dan kota-kota pusat pemerintahan kerajaan tradisional di Jawa menjadi pusat
kegiatan industri dan perdagangan
modern. Karenanya, kota-kota besar
terpenting di Jawa, mengalami suatu proses transformasi menjadi kota-kota
modern yang yang bersifat industrial.
Faktor kelima, perkembangan industri dan perdagangan modern
telah melahirkan sistem transportasi dan komunikasi modern di perkotaan Jawa.
Maka sarana transportasi modern dan komunikasi modern telah menjadi bagian yang
tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari golongan masyarakat menengah dan
atas di kota-kota besar Jawa.
Selanjutnya, faktor internal atau dari dalam yang
berpengaruh terhadap bentuk dan isi iklan dan surat kabar adalah pertama,
semakin pesatnya pertumbuhan industri penerbitan surat kabar dan percetakan
yang didukung teknologi reproduksi modern untuk memenuhi kebutuhan konsumsi
akan informasi bagi masyarakat terpelajar di kota-kota besar Jawa. Hampir di
setiap kota besar pulau Jawa terdapat industri penerbitan pers yang dikelola
dengan manajemen modern serta mampu menjangkau khalayak pembaca tidak saja
dalam cakupan lokal maupun regional, melainkan juga mampu mendistribusikan
surat kabar itu sampai ke wilayah luar Jawa dan Internasional. Oleh karena industri
penerbitan pers merupakan modal swasta yang berorientasi kepada pendapatan
keuntungan (komersial), maka dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi berbagai
segmen pembacanya diterbitkan surat kabar dengan berbagai macam bahasa
pengantar seperti bahasa Belanda, Melayu, Jawa, Sunda, Cina dan sebagainya.
Faktor kedua, besarnya arus penawaran produk-produk industri dan jasa modern
bagi masyarakat konsumen di kota-kota besar Jawa yang semakin heterogen
berakibat semakin ketatnya kompetisi pasar, sehingga memerlukan jasa
profesional komunikator untuk memasarkan produk-produk industri dan jasa
tersebut melalui media yang dipilih secara selektif dan efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Riyanto,
Bedjo. 2000. Iklan Surat Kabar dan Perubahan Masyarakat di Jawa Masa Kolonial
(1870-1915). Yogyakarta. Terawang Pers
PPPI.
Reka Reklame Sejarah Periklanan Indonesia 1744-1984. Jakarta. PPPI dan Gawang
Pers
Tidak ada komentar:
Posting Komentar