• Jurnalistik Media Cetak

    JURNALISTIK MEDIA CETAK


    "pembahasan tahap observasi dalam jurnalistik media cetak"

    OBSERVASI bukan hanya digunakan dalam ilmu pengetahuan seperti psikologi, kedokteran atau lainnya. Jurnalistik juga mengenal teknik ini sebagai salah satu cara untuk mengumpulkan data, informasi dan tanda-tanda (ciri) yang dapat dibuat sebagai catatan penting.
    Dalam jurnalistik, observasi menempati posisi penting. Teknik ini menghendaki kita untuk mengamati sesuatu (keadaan, peristiwa, objek tertentu) secara seksama, dengan mengoptimalkan seluruh panca indera yang kita miliki.
    Sebuah kebakaran bangunan misalnya, kita dapat mengamati suasana kebakaran, bagaimana orang-orang berusaha memadamkan, bagaimana reaksi orang yang punya bangunan itu, merasakan panasnya api, membaui asap yang menyesakkan, mendengarkan teriakan orang-orang yang minta tolong atau sedang bekerja sama memadamkan api itu. Jadi, observasi tidak sekadar mengandalkan mata saja untuk melihat. Kita sangat dimungkinkan ber-empati dengan kejadian atau objek yang kita lihat itu. Berempati berarti menempatkan diri kita bila kita dalam posisi dia, jika nasib kita seperti mereka itu. Hasil observasi langsung akan memberikan kekuatan ketika kita menuliskan apa yang sudah kita lihat itu, peristiwa yang kita saksikan itu. BUKAN mengenai apa yang kita PIKIRKAN terhadap peristiwa atau objek yang kita lihat itu.
    Observasi dalam jurnalistik terbagi menjadi tiga teknik. Pertama, teknik observasi langsung (partisipasi), kedua, tekni observasi terbuka, dan ketiga, observasi tertutup.
    a.    Pengamatan (observasi)
    Pengamatan (observasi) dipakai jika jurnalis langsung menghadapi peristiwa, jadi ia secara fisik berada di tempat peristiwa terjadi. Dengan menggunakan ketajaman indrawinya untuk menangkap kesan, jurnalis mengumpulkan semua fakta yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dirasa atau dikecap. Sebagai contoh, jika berhadapan dengan seseorang, jurnalis harus mendeskripsikan postur, wajah, warna kulit, rambut dan sebagainya yang berkaitan dengan kesan penglihatan si jurnalis. Suara ditangkap dengan kesan pendengaran. Rasa air dikenali dengan kesan pengecapan (pencicipan). Begitu seterusnya. Kesan yang diungkapkan itulah yang disebut sebagai diskripsi faktual. Akan tetapi deskripsi tersebut tidak boleh dipengaruhi subjektivitas (keinginan, harapan, atau bahkan khayal) si jurnalis. Kesan yang dideskripsikan harus benar-benar mewakili fakta. Peliputan investigasi pada akhirnya melibatkan observasi langsung di lapangan. Inilah ukuran yang paling nyata dalam sebuah tugas jurnalistik. Untuk mengetahui seberapa jauh dampak kerusakan lingkungan terhadap penduduk sekitar akibat ulah sebuah pabrik bahan kimia, wartawan tidak cukup hanya dengan mewawancarai pemilik pabrik, pejabat pemerintah, atau sejumlah penduduk. Namun wartawan harus datang dan mengobservasi langsung pabrik tersebut dan lokasi sekitarnya yang tercemar. Hasil observasi bisa tiga macam. Pertama, hasilnya sama dengan informasi sebelumnya, yang sudah diperoleh lewat wawancara, studi kepustakaan, dan sumber lain. Kedua, hasil observasi bersifat komplementer atau melengkapi informasi yang sudah ada dari sumber lain. Ketiga, hasil observasi bersifat kontras atau sangat berbeda dengan informasi yang sudah diperoleh sebelumnya. Perbedaan-perbedaan ini bisa disebabkan berbagai macam faktor. Dalam melakukan observasi dengan pengecekan langsung di lapangan, seorang wartawan harus sadar akan adanya berbagai kepentingan dari sumber-sumber berita. Contohnya: Seorang pemilik pabrik berkepentingan untuk meneruskan keberadaan pabriknya, karena pabrik tersebut menghasilkan keuntungan yang besar untuknya walaupun limbah pabrik mencemarkan lingkungan sekitar. Karena itu, pemilik pabrik akan cenderung memberikan informasi yang mengecilkan skala dampak kerusakan lingkungan tersebut. Sebaliknya, penduduk yang air sumurnya tercemar limbah pabrik berkepentingan untuk memperoleh perhatian dari pemerintah, agar pabrik itu segera diberhentikan operasinya dan agar diberi uang ganti rugi sebesar-besarnya. Maka ada kemungkinan ia mendramatisir dampak kerusakan lingkungan itu. Teknik observasi itu sendiri secara garis besar bisa dibagi dua macam, yakni teknik observasi terbuka dan observasi tertutup. Masing-masing teknik memiliki kelebihan dan kekurangan.
    b.    Observasi terbuka.
    Dalam hal ini wartawan melakukan observasi secara terang-terangan, dan dengan mengungkapkan identitas pribadi maupun institusi media yang diwakilinya secara jelas. Wartawan tidak merahasiakan apapun kepada sumber berita, termasuk niatnya untuk menulis laporan investigatif dan masalah apa yang sedang diinvestigasi. Observasi terbuka adalah bentuk observasi yang ideal dan paling bisa dipertanggungjawabkan secara jurnalistik. Ini adalah keunggulan dari teknik observasi terbuka. Orang yang dijadikan sumber berita tidak merasa dikecoh atau ditipu, dan jika mereka memberikan keterangan atau informasi maka informasi itu diberikan secara penuh kesadaran akan segala konsekuensinya. Jadi kualitas informasi yang diberikan itu betul-betul bisa dipertanggungjawabkan. Mereka juga bisa menuntut kepada wartawan dan media bersangkutan jika informasi yang dimuat tidak sesuai dengan informasi yang mereka berikan.
    Dari sisi wartawan itu sendiri, ia juga akan lebih terpacu untuk meliput dan menuliskan hasil liputan investigatifnya seakurat mungkin dan sebaik-baiknya. Hal itu karena wartawan bersangkutan sadar, ada yang mengontrol keabsahan hasil liputannya dan ia harus mempertanggungjawabkan hasil liputan tersebut (prinsip akuntabilitas). Carl Bernstein dan Bob Woodward, dua wartawan suratkabar The Washington Post, yang laporan investigatifnya memaksa Presiden Amerika Serikat Richard Nixon mundur dari jabatannya pada 9 Agustus 1974, melakukan investigasi dengan teknik observasi terbuka. Mereka tidak pernah menyembunyikan identitasnya atau suratkabar yang diwakilinya, ketika mencoba menggali informasi dari pejabat-pejabat yang dekat dengan Nixon. Kasus Nixon ini terkenal sebagai Skandal Watergate. Lewat investigasinya, Bernstein dan Woodward berhasil menyingkap keterlibatan kubu Nixon dalam pembobolan data Partai Demokrat, yang kala itu menjagokan George McGovern sebagai kandidat melawan Nixon. Bernstein dan Woodward mengendus keterlibatan orang-orang penting di sekitar Nixon, yang mereka juluki all the President men. Lika-liku investigasi yang dilakukan kedua wartawan ini sudah dibukukan dengan judul All the President Men, sehingga bisa dipelajari oleh para wartawan yang ingin mempelajari peliputan investigatif.
    c.    Observasi tertutup. 
    Dalam hal ini wartawan mengobservasi secara diam-diam. Ia tidak mengungkapkan identitas pribadi maupun institusi media yang diwakilinya secara jelas, bahkan merahasiakannya. DJ. Pamudji, seorang wartawan senior Harian Kompas, misalnya, pernah menyamar menjadi kenek truk angkutan barang. Hal itu dilakukan untuk menyelidiki praktek pungutan liar yang dilakukan aparat di jalan raya dan jembatan timbang. Keunggulan teknik observasi tertutup adalah cara ini bisa digunakan untuk menyusup ke orang atau kelompok orang yang dijadikan obyek investigasi, sehingga wartawan bisa melihat atau mengalami langsung berbagai praktek penyelewengan yang diinvestigasi. Dalam hal ini, si wartawan harus piawai dalam menyamar atau mengecoh pihak yang diinvestigasi. Dalam kasus Pamudji di atas, kebetulan wartawan ini bertubuh kekar dengan warna kulit kehitam-hitaman, khas pekerja kasar, sehingga tidak mencurigakan.
    Namun teknik observasi tertutup juga punya kelemahan. Pihak yang diinvestigasi akan merasa dikecoh dan ditipu, dan tentu akan ada risiko serta konsekuensi bagi wartawan jika ketahuan sedang melakukan “penyamaran.” Selain itu, ada problem etika. Apakah wartawan berhak menipu, mengecoh, dan melakukan praktek-praktek yang umumnya dianggap tindakan tercela –seperti misalnya, mencuri dokumen data milik sumber berita—demi kepentingan mengungkap kasus yang ia investigasi?
    Ada dua pandangan mengenai kontroversi ini. Pandangan pertama menyatakan, tindakan menipu, mengecoh, menyamar, mencuri dokumen, atau hal-hal lain semacam itu boleh dilakukan apabila ada kepentingan publik yang jauh lebih besar, yang diperjuangkan oleh wartawan. Kasarnya, dibolehkan melakukan “dosa-dosa kecil” demi menghindarkan terjadinya “dosa yang jauh lebih besar.” Sebagai contoh: Seorang wartawan menyelidiki kasus tewasnya sejumlah penduduk akibat keracunan air sumur di suatu wilayah. Air sumur itu menjadi beracun karena diduga tercemar limbah kimia dari sebuah pabrik di dekat situ. Dalam kondisi normal, masuk ke lingkungan pabrik tanpa izin dan mencuri data limbah pabrik adalah tindakan terlarang dan tidak etis. Namun jika wartawan bersangkutan mencoba menyelidiki pabrik terang-terangan dengan teknik observasi terbuka, jelas akan ditolak. Maka dalam kasus ini, wartawan itu dibolehkan menyamar, masuk ke lingkungan pabrik tanpa izin, atau mencuri data limbah pabrik, demi mencegah makin banyaknya jatuh korban tewas di kalangan penduduk akibat keracunan.
    Sedangkan pandangan kedua menyatakan, tindakan menipu, mengecoh, menyamar, mencuri dokumen, atau hal-hal lain semacam itu tegas tidak boleh dilakukan, meskipun ada kepentingan publik yang lebih besar, yang konon diperjuangkan oleh wartawan. Landasan dari pandangan kedua ini adalah, siapa yang bisa menilai bahwa tindakan wartawan itu betul-betul untuk kepentingan publik? Siapa yang akan mengontrol? Kemudian, apakah tidak kontradiktif bahwa dalam upaya menegakkan hukum dan kebenaran, wartawan dibolehkan melanggar hukum? Apakah ini bukan berarti tujuan menghalalkan cara?

    TEKNIK PENCATATAN DALAM OBSERVASI
                Observasi merupakan salah satu metode assessment yang dilakukan dengan cara mengamati dan merekam sebuah perilaku yang bertujuan untuk mendapatkan data tentang sebuah masalah, sehingga didapatkan pembuktian terhadap informasi yang diperoleh. Dalam observasi diperlukan beberapa metode dan teknik, baik dalam pelaksanaan maupun dalam pencatatan data observasi itu sendiri, agar tujuan assesment tersebut dapat tercapai. Sattler (2002) menguraikan beberapa teknik dalam pencatatan data observasi, yaitu:
    A.    Teknik Pencatatan Narative
    Teknik pencatatan naratif merupakan salah satu teknik pencatatan observasi yang dapat membantu observer dalam mendeskripsikan perilaku alami subyek. Dalam pencatatan naratif tersebut pengat tidak boleh melakukan interpretasi secara menyeluruh dan kejadiannya hendaklah menggunakan prosedur pencatatan kuantitatif. Teknik pencatatan naratif dapat dilakukan dengan dua cara pencatatan, yaitu berdasarkan anecdotal recording dan running recording.
    a.         Anecdotal recording merupakan sebuah pencatatan yang tidak membutuhkan kerangka waktu, pengkodean dan pengkategorian tertentu serta mencakup apapun yang relevan bagi observer. 
    b.        Running recorning merupakan pencatatan data dimana observer mencatat ketika fokus perilaku yang dikehendaki muncul.
    Adapun beberapa deskripsi perilaku, yaitu:
    a.       Global description, merupakan pendeskripsian data observasi perilaku secara umum.
    b.      Semi global description, merupakan pendeskripsian data observasi yang lebih terperinci dari sebelumnya namun tidak sedetail narrow description.
    c.       Narrow description, merupakan pendeskripsian data observasi yang sangat detail, lebih detail dari global dan semi global deskripsi, dimana data yang diperoleh mencakup bagaimana perilaku itu terjadi. 
    Naratif observasi dapat digunakan dalam berbagai macam setting dan periode waktu agar dapat mendapat gambaran yang lebih detail dan terperinci terhadap fokus perilaku yang ingin diobservasi. Hasil dari observasi tersebut digunakan dalam penyelidikan yang lebih spesifik. Terdapat beberapa setting situasi yang dapat digunakan pada pencatatan naratif utamanya dalam observasi anak dan pendidikan, antara lain Observasi keterampilan sosial dan komunikasi anak, Observasi sebuah keluarga, dimana pencatatan naratif ini dapat membantu observer untuk mengevaluasi interaksi antar keluarga, gaya komunikasi, seperti “apa yang didiskusikan dan bagaimana didiskusikan”, observasi guru, dimana observasi dapat dilakukan ketika observer berkunjung ke kelas, hendaknya mengobservasi metode dan gaya yang digunakan guru dalam mengajar serta management kelas, observasi anak dalam interaksi informal.
    Kelebihan narrative recording:
    1.      Menyediakan sebuah pencatatan dari perilaku dan kesan-kesan umum
    2.      Menjaga keaslian dari rangkaian perilaku
    3.      Mengumpulkan perilaku dan menemukan kritik perilaku
    4.      Memungkinkan meneliti progres perilaku
    5.      Mencatata perilaku yang sukar diselidiki
    6.      Membutuhkan sedikit peralatan
    7.      Awal yang baik untuk prosedur penelitian yang sistematis
    Kekurangan narrative recording:
    1.      Kurang cocok untuk memperoleh data kuantitatif
    2.      Pengujian validitasnya sulit
    3.      Tidak secara penuh mendeskripsikan tipe kritikal behavior
    4.      Hanya sedikit yang bisa digeneralisasikan
    5.      Hasilnya bervariasi dari satu observasi dengan observasi yang lain.
    B.     Teknik Interval Recording
    Sattler (2002) menjelaskan bahwa interval recording biasa juga disebut dengan time sampling, interval sampling, atau interval time sampling, dimana pencatatan tersebut merupakan salah satu teknik observasi yang berfokus pada perilaku spesifik dalam interval waktu tertentu. Dalam interval recording, pencatatan dilakukan pada perode interval yang sama dan observer mencatatan sejumlah perilaku yang muncul selama interval tertentu.
    Terdapat beberapa prosedur pada interval recording, yaitu:
    a.       Partial – interval time sampling, yaitu observer mencatat perilaku hanya sekali, dengan mengabaikan berapa lama itu berakhir atau berapa banyak waktu yang dibutuhkan pada interval tersebut.
    b.      whole – interval time sampling, yaitu observer mencatat perilaku hanya pada waktu interval dimulai dan diakhir interval tersebut. Metode ini pada umumnya digunakan ketika kita ingin mengetahui perilaku mana yang dimunculkan subyek secara terus menerus dalam satu interval.
    c.       point time interval sampling, yaitu observer mencatat perilaku hanya pada waktu spesifik dalam interval tertentu. sebagai contoh : observer mungkin mencatat perilaku yang spesifik, apabila prilaku itu muncul pada 10 detik pertama dalam satu jam.
    d.      Momentary time interval sampling, yaitu observer mencatat perilaku hanya pada moment, interval dimulai dan diakhiri. sebagai contoh, apabila interval waktu 30 detik, kamu mencatat hanya perilaku yang diobservasi pada akhir interval 30 detik tersebut. kita dapat menggunakan prosedur ini untuk sebuah kelompok subyek.
    e.       Variabel interoccasion interval sampling, yaitu observer mencatat perilaku yang hanya terjadi selama waktu yang dipilih secara acak dalam interval.
    Keuntungan Interval Recording:
    1.      membantu menggambarkan waktu yang penting-hubungan perilaku.
    2.      memfasilitasi pemeriksaan untuk realibilitas interobserver.
    3.      membantu memastikan perilaku yang ditemukan pada saat observasi dalam jangka waktu yang sama.
    4.      menggunakan waktu yang efisien.
    5.      fokus pada perhatian observer pada perilaku subyek.
    6.      Membantu mengumpulkan sejumlah besar   observasi dalam periode waktu singkat
    Kelemahan Interval Recording:
    1.      Perilaku yang diobservasi tampak berurutan, karena interval waktu- bukan karena perilaku tersebut.
    2.      Hubungan antar perilaku dan permasalahan terlihat berlebihan
    3.      tidak mengungkapkan frekuensi secara actual atau durasi dari perlaku.
    C.    Teknik Even Recording
    Teknik event recording atau biasa dikenal dengan nama even sampling, dimana observer dapat mencatat sebuah kejadian pada perilaku spesifik atau pada even yang terjadi selama periode observasi.


    Keuntungan Event Sampling:
    1.      Mengukur atau melihat perilaku dengan frekuensi yang rendah atau jarang, dan oleh orang yang sehari-hari berada dalam setting observasi
    2.      Memudahkan dalam mempelajari banyak perilaku atau peristiwa yang berbeda
    3.      Lebih efisien
    4.      Dapat menggunakan bermacam-macam cara pencatatan data yang berbeda
    5.      Memberikan informasi mengenai perubahan perilaku dari waktu ke waktu dan total jumlah perilaku
    Kelemahan Event Sampling:
    1.      Tidak memberikan pola perilaku yang sifatnya sementara
    2.      Sulit untuk mencapai reliabilitas antar observer
    3.      Tidak cocok untuk melihat perilaku yang tidak diskrit
    4.      Observer harus dapat mempertahankan konsentrasi dalam waktu yang lebih lama
    5.      Membuat perbandingan antar event satu dengan event yang lain akan sulit ketika periode waktunya tidak sama
    D.    Teknik Rating Recording
    Sattler (2002) menjelaskan bahwa pada rating recording, observer merate perilaku pada skala atau checklist, yang terkadang pada akhir periode observasi. Setelah skala dirancang, observer dapat mengindikasikan derajat (a). Atribut yang telah diobservasi (e.g comparatif, agresif) atau (b). Kita merasa atribut tersebut terdapat pada subyek. Nilai yang dihasilkan berupa nilai ordinal.
    Terdapat beberapa keuntungan ketika menggunakan rating recording, antara lain :
    1.      Memungkinkan sudut pandang umum
    2.      Memungkinkan untuk mencatat beberapa perilaku yang berbeda
    3.      Dapat digunakan untuk menilai perilaku pada beberapa individu atau kelompok
    4.      Dapat mencatat aspek kualitatif perilaku
    5.      Data di generalisasikan pada data statistical
    6.      Waktunya efisien
    Kelemahan rating recording :
    1.      Harga skala yang digunakan mungkin berdasarkan pada asumsi yang tidak jelas
    2.      Memiliki reliabel interobserver yang lemah karena interpretasi yang berbeda tiap observer.
    3.      Tidak cocok mencatat informasi kuantitatif yang penting, seperti frekuensi, durasi atau latensi perilaku.
    4.      Tidak akurat apabila ada penundaan waktu antara perilaku yang diobservasi dan nilai observer terhadap perilaku.
    Teknik Cara Mencari dan Mengumpulkan Fakta
    Ada tiga cara yang dapat digunakan jurnalis untuk mencari dan mengumpulkan fakta. Ketiga cara tersebut masing-masing pengamatan (observasi), wawancara dan riset dokumentasi.
    Panduan jurnalis untuk mengumpulkan fakta adalah pertanyaan pokok jurnalisme 5W+H. Ketika melakukan observasi, pertanyaan itu ada dibenaknya, lalu digunakan otak untuk memerintahkan indra (mata, telinga, hidung,lidah, kulit dsb) untuk menangkap kesan sehingga pertanyaan itu terjawab. Ketika melakukan wawancara, pertanyaan itu dilontarkan melalui bahasa lisan yang dikomunikasikan kepada pihak yang diwawancarai. Ketika melakukan observasi, pertanyaaan itu ada di benak jurnalis atau pada selembar kertas yang digunakan untuk menelaah sejumlah arsip di tempat tertentu.
    Cara manapun yang dipakai, pertanyaan 5W+H diajukan berkali-kali, dengan formulasi yang berbeda-beda, sampai akhirnya tidak ada lagi pertanyaan yang dapat diajukan, karena tidak ada lagi fakta yang bisa diperoleh di sumber informasi itu. Penting dicermati akurasi setiap fakta yang diperoleh. Akurasi tidak hanya berkaitan dengan angka dalam pengertian jumlah maupun besaran. Akurasi juga mencakup cara penulisan nama, sebutan, cara mendeskripsikan warna, sosok, suasana, bahkan menuliskan ucapan dan sebagainya. Ketidakcermatan, kelalaian atau kemalasan untuk melakukan cek ulang, merupakan sumber ketidakakuratan fakta. Ketidakakuratan berpotensi mengundang tuntutan hukum dari pihak yang merasa dirugikan oleh ketidakakuratan itu.


    Kebohongan kecil
    Dalam praktek di lapangan, taktik-taktik tertentu digunakan untuk menggali informasi. Bahkan wartawan yang memilih melakukan observasi terbuka pun tak lepas dari kiat-kiat lapangan ini, termasuk “kebohongan kecil” untuk membuat narasumber mau membuka mulut. Namun “kebohongan kecil” ini tidak bisa disamakan tingkatannya dengan penipuan identitas dan pengecohan yang dilakukan dalam observasi tertutup.
    Bernstein dan Woodward, ketika mewawancarai seorang pejabat bawahan Presiden Nixon, sengaja memberi kesan bahwa kedua wartawan Washington Post itu sudah tahu informasi tertentu dari sumber lain, sehingga wawancara dengan pejabat tersebut pada dasarnya hanya bersifat konfirmasi. Karena mengira informasi itu sudah di tangan pers dan sudah dibuka oleh narasumber lain, pejabat tersebut tidak melihat alasan untuk terus menyimpan informasi tersebut dan bersedia membuka mulut. Padahal informasi itu sebetulnya belum diketahui oleh Bernstein dan Woodward. Meskipun bukan praktek jurnalistik yang ideal, dalam batas-batas etis, kiat-kiat menggali informasi semacam ini relatif masih bisa diterima. Praktek “memancing” semacam ini sebenarnya juga banyak dilakukan wartawan dalam liputan biasa sehari-hari, tidak hanya dalam liputan investigatif.

    KESIMPULAN :
                Dalam melakukan sebuah observasi jurnalistik diperlukan berbagai teknik dan langkah yang perlu diperhatikan, hal ini dikarenakan sangat mempengaruhi hasil yang akan diperoleh yang berkaitan dengan aktualitas dan fakta berita. Saat kita mampu menerapkan tekni dengan tepat maka hasil yang diperoleh juga akan sesuai. Maka dari itu diperlukan pengetahuan mendalam akan berbagai hal tentang observasi ini agar mampu menghasilkan kualitas berita yang baik.
                Sebagai seorang pekerja jurnalis teknik dan jenis observasi harus dikuasai dengan sungguh-sungguh. Karena hal ini merupakan kunci penting dalam keakuratan suatu berita sebelum disebarkan/diinformasikan kepada masyarakat.




    REFERENSI :
    Satteler, J. M. 2002. Assesment of children behavioral and clinical applications fourth edition.Publiser, Inc:           San Diego.

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

SUBSCRIBE

Text Widget

Followers

Instagram

Pages

recent posts

Video of the Day

Flickr Images

Like us on Facebook

Flickr Images

Popular Posts