JURNALISTIK
MEDIA CETAK
"pembahasan tahap observasi dalam jurnalistik media cetak"
OBSERVASI bukan hanya digunakan dalam ilmu pengetahuan
seperti psikologi, kedokteran atau lainnya. Jurnalistik juga mengenal teknik
ini sebagai salah satu cara untuk mengumpulkan data, informasi dan tanda-tanda
(ciri) yang dapat dibuat sebagai catatan penting.
Dalam jurnalistik, observasi menempati posisi penting. Teknik ini menghendaki kita untuk mengamati sesuatu (keadaan, peristiwa, objek tertentu) secara seksama, dengan mengoptimalkan seluruh panca indera yang kita miliki.
Dalam jurnalistik, observasi menempati posisi penting. Teknik ini menghendaki kita untuk mengamati sesuatu (keadaan, peristiwa, objek tertentu) secara seksama, dengan mengoptimalkan seluruh panca indera yang kita miliki.
Sebuah kebakaran bangunan misalnya, kita dapat mengamati
suasana kebakaran, bagaimana orang-orang berusaha memadamkan, bagaimana reaksi
orang yang punya bangunan itu, merasakan panasnya api, membaui asap yang
menyesakkan, mendengarkan teriakan orang-orang yang minta tolong atau sedang
bekerja sama memadamkan api itu. Jadi, observasi tidak sekadar mengandalkan
mata saja untuk melihat. Kita sangat dimungkinkan ber-empati dengan kejadian
atau objek yang kita lihat itu. Berempati berarti menempatkan diri kita bila
kita dalam posisi dia, jika nasib kita seperti mereka itu. Hasil observasi
langsung akan memberikan kekuatan ketika kita menuliskan apa yang sudah kita
lihat itu, peristiwa yang kita saksikan itu. BUKAN mengenai apa yang kita PIKIRKAN
terhadap peristiwa atau objek yang kita lihat itu.
Observasi dalam jurnalistik terbagi menjadi tiga teknik.
Pertama, teknik observasi langsung (partisipasi), kedua, tekni observasi terbuka,
dan ketiga, observasi tertutup.
a. Pengamatan (observasi)
Pengamatan (observasi) dipakai
jika jurnalis langsung menghadapi peristiwa, jadi ia secara fisik berada di
tempat peristiwa terjadi. Dengan menggunakan ketajaman indrawinya untuk
menangkap kesan, jurnalis mengumpulkan semua fakta yang dapat dilihat,
didengar, dibaui, diraba, dirasa atau dikecap. Sebagai contoh, jika berhadapan
dengan seseorang, jurnalis harus mendeskripsikan postur, wajah, warna kulit,
rambut dan sebagainya yang berkaitan dengan kesan penglihatan si jurnalis.
Suara ditangkap dengan kesan pendengaran. Rasa air dikenali dengan kesan
pengecapan (pencicipan). Begitu seterusnya. Kesan yang diungkapkan itulah yang
disebut sebagai diskripsi faktual. Akan tetapi deskripsi tersebut tidak boleh
dipengaruhi subjektivitas (keinginan, harapan, atau bahkan khayal) si jurnalis.
Kesan yang dideskripsikan harus benar-benar mewakili fakta. Peliputan investigasi pada akhirnya melibatkan observasi
langsung di lapangan. Inilah ukuran yang paling nyata dalam sebuah tugas
jurnalistik. Untuk mengetahui seberapa jauh dampak kerusakan lingkungan
terhadap penduduk sekitar akibat ulah sebuah pabrik bahan kimia, wartawan tidak
cukup hanya dengan mewawancarai pemilik pabrik, pejabat pemerintah, atau
sejumlah penduduk. Namun wartawan harus datang dan mengobservasi langsung
pabrik tersebut dan lokasi sekitarnya yang tercemar. Hasil observasi bisa tiga
macam. Pertama, hasilnya sama dengan informasi sebelumnya, yang sudah diperoleh
lewat wawancara, studi kepustakaan, dan sumber lain. Kedua, hasil observasi
bersifat komplementer atau melengkapi informasi yang sudah ada dari sumber
lain. Ketiga, hasil observasi bersifat kontras atau sangat berbeda dengan
informasi yang sudah diperoleh sebelumnya. Perbedaan-perbedaan ini bisa
disebabkan berbagai macam faktor. Dalam melakukan observasi dengan pengecekan langsung
di lapangan, seorang wartawan harus sadar akan adanya berbagai kepentingan dari
sumber-sumber berita. Contohnya: Seorang pemilik pabrik berkepentingan untuk
meneruskan keberadaan pabriknya, karena pabrik tersebut menghasilkan keuntungan
yang besar untuknya walaupun limbah pabrik mencemarkan lingkungan sekitar.
Karena itu, pemilik pabrik akan cenderung memberikan informasi yang mengecilkan
skala dampak kerusakan lingkungan tersebut. Sebaliknya, penduduk yang air
sumurnya tercemar limbah pabrik berkepentingan untuk memperoleh perhatian dari
pemerintah, agar pabrik itu segera diberhentikan operasinya dan agar diberi
uang ganti rugi sebesar-besarnya. Maka ada kemungkinan ia mendramatisir dampak
kerusakan lingkungan itu. Teknik observasi itu sendiri secara garis besar bisa
dibagi dua macam, yakni teknik observasi terbuka dan observasi tertutup.
Masing-masing teknik memiliki kelebihan dan kekurangan.
b. Observasi terbuka.
Dalam hal ini
wartawan melakukan observasi secara terang-terangan, dan dengan mengungkapkan
identitas pribadi maupun institusi media yang diwakilinya secara jelas.
Wartawan tidak merahasiakan apapun kepada sumber berita, termasuk niatnya untuk
menulis laporan investigatif dan masalah apa yang sedang diinvestigasi. Observasi terbuka adalah bentuk observasi yang ideal dan
paling bisa dipertanggungjawabkan secara jurnalistik. Ini adalah keunggulan
dari teknik observasi terbuka. Orang yang dijadikan sumber berita tidak merasa
dikecoh atau ditipu, dan jika mereka memberikan keterangan atau informasi maka
informasi itu diberikan secara penuh kesadaran akan segala konsekuensinya. Jadi
kualitas informasi yang diberikan itu betul-betul bisa dipertanggungjawabkan.
Mereka juga bisa menuntut kepada wartawan dan media bersangkutan jika informasi
yang dimuat tidak sesuai dengan informasi yang mereka berikan.
Dari sisi wartawan
itu sendiri, ia juga akan lebih terpacu untuk meliput dan menuliskan hasil
liputan investigatifnya seakurat mungkin dan sebaik-baiknya. Hal itu karena
wartawan bersangkutan sadar, ada yang mengontrol keabsahan hasil liputannya dan
ia harus mempertanggungjawabkan hasil liputan tersebut (prinsip akuntabilitas). Carl Bernstein dan Bob
Woodward, dua wartawan suratkabar The Washington Post, yang laporan
investigatifnya memaksa Presiden Amerika Serikat Richard Nixon mundur dari
jabatannya pada 9 Agustus 1974, melakukan investigasi dengan teknik observasi
terbuka. Mereka tidak pernah menyembunyikan identitasnya atau suratkabar yang
diwakilinya, ketika mencoba menggali informasi dari
pejabat-pejabat yang dekat dengan Nixon. Kasus Nixon ini terkenal sebagai Skandal Watergate. Lewat
investigasinya, Bernstein dan Woodward berhasil menyingkap keterlibatan kubu
Nixon dalam pembobolan data Partai Demokrat, yang kala itu menjagokan George
McGovern sebagai kandidat melawan Nixon. Bernstein dan Woodward mengendus
keterlibatan orang-orang penting di sekitar Nixon, yang mereka juluki all the
President men. Lika-liku investigasi yang dilakukan kedua wartawan ini sudah
dibukukan dengan judul All the President Men, sehingga bisa dipelajari oleh
para wartawan yang ingin mempelajari peliputan investigatif.
c.
Observasi
tertutup.
Dalam hal ini
wartawan mengobservasi secara diam-diam. Ia tidak mengungkapkan identitas
pribadi maupun institusi media yang diwakilinya secara jelas, bahkan
merahasiakannya. DJ. Pamudji, seorang wartawan senior Harian Kompas, misalnya,
pernah menyamar menjadi kenek truk angkutan barang. Hal itu dilakukan untuk
menyelidiki praktek pungutan liar yang dilakukan aparat di jalan raya dan
jembatan timbang. Keunggulan
teknik observasi tertutup adalah cara ini bisa digunakan untuk menyusup ke
orang atau kelompok orang yang dijadikan obyek investigasi, sehingga wartawan
bisa melihat atau mengalami langsung berbagai praktek penyelewengan yang diinvestigasi.
Dalam hal ini, si wartawan harus piawai dalam menyamar atau mengecoh pihak yang
diinvestigasi. Dalam kasus Pamudji di atas, kebetulan wartawan ini bertubuh
kekar dengan warna kulit kehitam-hitaman, khas pekerja kasar, sehingga tidak
mencurigakan.
Namun teknik
observasi tertutup juga punya kelemahan. Pihak yang diinvestigasi akan merasa
dikecoh dan ditipu, dan tentu akan ada risiko serta konsekuensi bagi wartawan
jika ketahuan sedang melakukan “penyamaran.” Selain itu, ada problem etika.
Apakah wartawan berhak menipu, mengecoh, dan melakukan praktek-praktek yang
umumnya dianggap tindakan tercela –seperti misalnya, mencuri dokumen data milik
sumber berita—demi kepentingan mengungkap kasus yang ia investigasi?
Ada dua pandangan
mengenai kontroversi ini. Pandangan pertama menyatakan, tindakan menipu,
mengecoh, menyamar, mencuri dokumen, atau hal-hal lain semacam itu boleh
dilakukan apabila ada kepentingan publik yang jauh lebih besar, yang
diperjuangkan oleh wartawan. Kasarnya, dibolehkan melakukan “dosa-dosa kecil”
demi menghindarkan terjadinya “dosa yang jauh lebih besar.” Sebagai contoh:
Seorang wartawan menyelidiki kasus tewasnya sejumlah penduduk akibat keracunan
air sumur di suatu wilayah. Air sumur itu menjadi beracun karena diduga
tercemar limbah kimia dari sebuah pabrik di dekat situ. Dalam kondisi normal,
masuk ke lingkungan pabrik tanpa izin dan mencuri data limbah pabrik adalah
tindakan terlarang dan tidak etis. Namun jika wartawan bersangkutan mencoba
menyelidiki pabrik terang-terangan dengan teknik observasi terbuka, jelas akan
ditolak. Maka dalam kasus ini, wartawan itu dibolehkan menyamar, masuk ke
lingkungan pabrik tanpa izin, atau mencuri data limbah pabrik, demi mencegah
makin banyaknya jatuh korban tewas di kalangan penduduk akibat keracunan.
Sedangkan
pandangan kedua menyatakan, tindakan menipu, mengecoh, menyamar, mencuri
dokumen, atau hal-hal lain semacam itu tegas tidak boleh dilakukan, meskipun
ada kepentingan publik yang lebih besar, yang konon diperjuangkan oleh
wartawan. Landasan dari pandangan kedua ini adalah, siapa yang bisa menilai
bahwa tindakan wartawan itu betul-betul untuk kepentingan publik? Siapa yang
akan mengontrol? Kemudian, apakah tidak kontradiktif bahwa dalam upaya
menegakkan hukum dan kebenaran, wartawan dibolehkan melanggar hukum? Apakah ini
bukan berarti tujuan menghalalkan cara?
TEKNIK
PENCATATAN DALAM OBSERVASI
Observasi merupakan salah satu metode assessment yang dilakukan dengan cara
mengamati dan merekam sebuah perilaku yang bertujuan untuk mendapatkan data
tentang sebuah masalah, sehingga didapatkan pembuktian terhadap informasi yang
diperoleh. Dalam observasi diperlukan beberapa metode dan teknik, baik dalam
pelaksanaan maupun dalam pencatatan data observasi itu sendiri, agar tujuan
assesment tersebut dapat tercapai. Sattler (2002) menguraikan beberapa teknik
dalam pencatatan data observasi, yaitu:
A. Teknik
Pencatatan Narative
Teknik
pencatatan naratif merupakan salah satu teknik pencatatan observasi yang dapat
membantu observer dalam mendeskripsikan perilaku alami subyek. Dalam pencatatan
naratif tersebut pengat tidak boleh melakukan interpretasi secara menyeluruh
dan kejadiannya hendaklah menggunakan prosedur pencatatan kuantitatif. Teknik
pencatatan naratif dapat dilakukan dengan dua cara pencatatan, yaitu
berdasarkan anecdotal recording dan running recording.
a.
Anecdotal recording merupakan
sebuah pencatatan yang tidak membutuhkan kerangka waktu, pengkodean dan
pengkategorian tertentu serta mencakup apapun yang relevan bagi observer.
b.
Running recorning merupakan
pencatatan data dimana observer mencatat ketika fokus perilaku yang dikehendaki
muncul.
Adapun
beberapa deskripsi perilaku, yaitu:
a. Global
description, merupakan pendeskripsian data observasi perilaku secara umum.
b. Semi
global description, merupakan pendeskripsian data observasi yang lebih
terperinci dari sebelumnya namun tidak sedetail narrow description.
c. Narrow
description, merupakan pendeskripsian data observasi yang sangat detail,
lebih detail dari global dan semi global deskripsi, dimana data yang diperoleh
mencakup bagaimana perilaku itu terjadi.
Naratif
observasi dapat digunakan dalam berbagai macam setting dan
periode waktu agar dapat mendapat gambaran yang lebih detail dan
terperinci terhadap fokus perilaku yang ingin diobservasi. Hasil dari observasi
tersebut digunakan dalam penyelidikan yang lebih spesifik. Terdapat beberapa
setting situasi yang dapat digunakan pada pencatatan naratif utamanya dalam
observasi anak dan pendidikan, antara lain Observasi keterampilan sosial dan
komunikasi anak, Observasi sebuah keluarga, dimana pencatatan naratif ini dapat
membantu observer untuk mengevaluasi interaksi antar keluarga, gaya komunikasi,
seperti “apa yang didiskusikan dan bagaimana didiskusikan”, observasi guru,
dimana observasi dapat dilakukan ketika observer berkunjung ke kelas, hendaknya
mengobservasi metode dan gaya yang digunakan guru dalam mengajar serta
management kelas, observasi anak dalam interaksi informal.
Kelebihan narrative recording:
1. Menyediakan
sebuah pencatatan dari perilaku dan kesan-kesan umum
2. Menjaga
keaslian dari rangkaian perilaku
3. Mengumpulkan
perilaku dan menemukan kritik perilaku
4. Memungkinkan
meneliti progres perilaku
5. Mencatata
perilaku yang sukar diselidiki
6. Membutuhkan
sedikit peralatan
7. Awal
yang baik untuk prosedur penelitian yang sistematis
Kekurangan narrative recording:
1. Kurang
cocok untuk memperoleh data kuantitatif
2. Pengujian
validitasnya sulit
3. Tidak
secara penuh mendeskripsikan tipe kritikal behavior
4. Hanya
sedikit yang bisa digeneralisasikan
5. Hasilnya
bervariasi dari satu observasi dengan observasi yang lain.
B. Teknik
Interval Recording
Sattler (2002)
menjelaskan bahwa interval recording biasa juga disebut
dengan time sampling, interval sampling, atau interval time
sampling, dimana pencatatan tersebut merupakan salah satu teknik observasi
yang berfokus pada perilaku spesifik dalam interval waktu tertentu. Dalam
interval recording, pencatatan dilakukan pada perode interval yang sama dan
observer mencatatan sejumlah perilaku yang muncul selama interval tertentu.
Terdapat beberapa prosedur pada
interval recording, yaitu:
a. Partial
– interval time sampling, yaitu observer mencatat perilaku hanya sekali,
dengan mengabaikan berapa lama itu berakhir atau berapa banyak waktu yang
dibutuhkan pada interval tersebut.
b. whole
– interval time sampling, yaitu observer mencatat perilaku hanya pada
waktu interval dimulai dan diakhir interval tersebut. Metode ini pada umumnya
digunakan ketika kita ingin mengetahui perilaku mana yang dimunculkan subyek
secara terus menerus dalam satu interval.
c. point
time interval sampling, yaitu observer mencatat perilaku hanya pada waktu
spesifik dalam interval tertentu. sebagai contoh : observer mungkin mencatat
perilaku yang spesifik, apabila prilaku itu muncul pada 10 detik pertama dalam
satu jam.
d. Momentary
time interval sampling, yaitu observer mencatat perilaku hanya pada moment,
interval dimulai dan diakhiri. sebagai contoh, apabila interval waktu 30 detik,
kamu mencatat hanya perilaku yang diobservasi pada akhir interval 30 detik tersebut.
kita dapat menggunakan prosedur ini untuk sebuah kelompok subyek.
e. Variabel
interoccasion interval sampling, yaitu observer mencatat perilaku yang
hanya terjadi selama waktu yang dipilih secara acak dalam interval.
Keuntungan Interval Recording:
1. membantu
menggambarkan waktu yang penting-hubungan perilaku.
2. memfasilitasi
pemeriksaan untuk realibilitas interobserver.
3. membantu
memastikan perilaku yang ditemukan pada saat observasi dalam jangka waktu yang
sama.
4. menggunakan
waktu yang efisien.
5. fokus
pada perhatian observer pada perilaku subyek.
6. Membantu
mengumpulkan sejumlah besar observasi dalam periode waktu singkat
Kelemahan Interval Recording:
1. Perilaku
yang diobservasi tampak berurutan, karena interval waktu- bukan karena perilaku
tersebut.
2. Hubungan
antar perilaku dan permasalahan terlihat berlebihan
3. tidak
mengungkapkan frekuensi secara actual atau durasi dari perlaku.
C. Teknik
Even Recording
Teknik event
recording atau biasa dikenal dengan nama even sampling, dimana observer
dapat mencatat sebuah kejadian pada perilaku spesifik atau pada even yang
terjadi selama periode observasi.
Keuntungan Event Sampling:
1. Mengukur
atau melihat perilaku dengan frekuensi yang rendah atau jarang, dan oleh orang
yang sehari-hari berada dalam setting observasi
2. Memudahkan
dalam mempelajari banyak perilaku atau peristiwa yang berbeda
3. Lebih
efisien
4. Dapat
menggunakan bermacam-macam cara pencatatan data yang berbeda
5. Memberikan
informasi mengenai perubahan perilaku dari waktu ke waktu dan total jumlah
perilaku
Kelemahan Event Sampling:
1. Tidak
memberikan pola perilaku yang sifatnya sementara
2. Sulit
untuk mencapai reliabilitas antar observer
3. Tidak
cocok untuk melihat perilaku yang tidak diskrit
4. Observer
harus dapat mempertahankan konsentrasi dalam waktu yang lebih lama
5. Membuat
perbandingan antar event satu dengan event yang lain akan sulit ketika periode
waktunya tidak sama
D. Teknik
Rating Recording
Sattler (2002)
menjelaskan bahwa pada rating recording, observer merate perilaku pada skala
atau checklist, yang terkadang pada akhir periode observasi. Setelah skala
dirancang, observer dapat mengindikasikan derajat (a). Atribut yang telah
diobservasi (e.g comparatif, agresif) atau (b). Kita merasa atribut tersebut
terdapat pada subyek. Nilai yang dihasilkan berupa nilai ordinal.
Terdapat beberapa keuntungan ketika
menggunakan rating recording, antara lain :
1. Memungkinkan
sudut pandang umum
2. Memungkinkan
untuk mencatat beberapa perilaku yang berbeda
3. Dapat
digunakan untuk menilai perilaku pada beberapa individu atau kelompok
4. Dapat
mencatat aspek kualitatif perilaku
5. Data
di generalisasikan pada data statistical
6. Waktunya
efisien
Kelemahan rating recording :
1. Harga
skala yang digunakan mungkin berdasarkan pada asumsi yang tidak jelas
2. Memiliki
reliabel interobserver yang lemah karena interpretasi yang berbeda tiap
observer.
3. Tidak
cocok mencatat informasi kuantitatif yang penting, seperti frekuensi, durasi
atau latensi perilaku.
4. Tidak
akurat apabila ada penundaan waktu antara perilaku yang diobservasi dan nilai
observer terhadap perilaku.
Teknik Cara Mencari dan
Mengumpulkan Fakta
Ada tiga cara yang dapat digunakan jurnalis
untuk mencari dan mengumpulkan fakta. Ketiga cara tersebut masing-masing
pengamatan (observasi), wawancara dan riset dokumentasi.
Panduan jurnalis untuk mengumpulkan fakta adalah pertanyaan pokok jurnalisme 5W+H. Ketika melakukan observasi, pertanyaan itu ada dibenaknya, lalu digunakan otak untuk memerintahkan indra (mata, telinga, hidung,lidah, kulit dsb) untuk menangkap kesan sehingga pertanyaan itu terjawab. Ketika melakukan wawancara, pertanyaan itu dilontarkan melalui bahasa lisan yang dikomunikasikan kepada pihak yang diwawancarai. Ketika melakukan observasi, pertanyaaan itu ada di benak jurnalis atau pada selembar kertas yang digunakan untuk menelaah sejumlah arsip di tempat tertentu.
Panduan jurnalis untuk mengumpulkan fakta adalah pertanyaan pokok jurnalisme 5W+H. Ketika melakukan observasi, pertanyaan itu ada dibenaknya, lalu digunakan otak untuk memerintahkan indra (mata, telinga, hidung,lidah, kulit dsb) untuk menangkap kesan sehingga pertanyaan itu terjawab. Ketika melakukan wawancara, pertanyaan itu dilontarkan melalui bahasa lisan yang dikomunikasikan kepada pihak yang diwawancarai. Ketika melakukan observasi, pertanyaaan itu ada di benak jurnalis atau pada selembar kertas yang digunakan untuk menelaah sejumlah arsip di tempat tertentu.
Cara manapun yang dipakai, pertanyaan 5W+H
diajukan berkali-kali, dengan formulasi yang berbeda-beda, sampai akhirnya
tidak ada lagi pertanyaan yang dapat diajukan, karena tidak ada lagi fakta yang
bisa diperoleh di sumber informasi itu. Penting dicermati akurasi setiap fakta
yang diperoleh. Akurasi tidak hanya berkaitan dengan angka dalam pengertian
jumlah maupun besaran. Akurasi juga mencakup cara penulisan nama, sebutan, cara
mendeskripsikan warna, sosok, suasana, bahkan menuliskan ucapan dan sebagainya.
Ketidakcermatan, kelalaian atau kemalasan untuk melakukan cek ulang, merupakan
sumber ketidakakuratan fakta. Ketidakakuratan berpotensi mengundang tuntutan
hukum dari pihak yang merasa dirugikan oleh ketidakakuratan itu.
Kebohongan kecil
Dalam
praktek di lapangan, taktik-taktik tertentu digunakan untuk menggali informasi.
Bahkan wartawan yang memilih melakukan observasi terbuka pun tak lepas dari
kiat-kiat lapangan ini, termasuk “kebohongan kecil” untuk membuat narasumber
mau membuka mulut. Namun “kebohongan kecil” ini tidak bisa disamakan
tingkatannya dengan penipuan identitas dan pengecohan yang dilakukan dalam
observasi tertutup.
Bernstein
dan Woodward, ketika mewawancarai seorang pejabat bawahan Presiden Nixon,
sengaja memberi kesan bahwa kedua wartawan Washington Post itu sudah tahu
informasi tertentu dari sumber lain, sehingga wawancara dengan pejabat tersebut
pada dasarnya hanya bersifat konfirmasi. Karena mengira informasi itu sudah di
tangan pers dan sudah dibuka oleh narasumber lain, pejabat tersebut tidak
melihat alasan untuk terus menyimpan informasi tersebut dan bersedia membuka
mulut. Padahal informasi itu sebetulnya belum diketahui oleh Bernstein dan
Woodward. Meskipun bukan praktek jurnalistik yang ideal, dalam batas-batas
etis, kiat-kiat menggali informasi semacam ini relatif masih bisa diterima.
Praktek “memancing” semacam ini sebenarnya juga banyak dilakukan wartawan dalam
liputan biasa sehari-hari, tidak hanya dalam liputan investigatif.
KESIMPULAN :
Dalam melakukan sebuah observasi
jurnalistik diperlukan berbagai teknik dan langkah yang perlu diperhatikan, hal
ini dikarenakan sangat mempengaruhi hasil yang akan diperoleh yang berkaitan
dengan aktualitas dan fakta berita. Saat kita mampu menerapkan tekni dengan
tepat maka hasil yang diperoleh juga akan sesuai. Maka dari itu diperlukan
pengetahuan mendalam akan berbagai hal tentang observasi ini agar mampu
menghasilkan kualitas berita yang baik.
Sebagai seorang pekerja jurnalis
teknik dan jenis observasi harus dikuasai dengan sungguh-sungguh. Karena hal
ini merupakan kunci penting dalam keakuratan suatu berita sebelum
disebarkan/diinformasikan kepada masyarakat.
REFERENSI :
Satteler, J. M. 2002. Assesment of children behavioral and clinical applications fourth edition.Publiser, Inc: San Diego.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar