TEKNOLOGI
KOMUNIKASI
Perspektif Penggunaan Internet Terhadap Partisipasi Poltik
Perkembangan
internet menghasilkan sebuah perubahan dalam masyarakat. Kehadiran
interenet memiliki peran besar dalam kegunaannya yang memang dirancang untuk
kemudahan masyarakat. Meskipun demikian seseungguhnya internet tidak hanya
dipandang dengan satu sudut pandang saja, penggunaan
internet sebenarnya dapat di pandang dari dua perspektif yaitu perspektif pesimis
dan perspektif optimis.
Perspektif
pesimisme membahas mengenai pandangan bahwa adanya kekhawatiran tentang akses
internet/media online yang tidak sama dan yang berimplikasi pada keuntungan/manfaat
yang didapat juga tidak sama. Misalnya yaitu ada banyak hambatan fisik dan
sosial ekonomi atas persoalan akses jaringan internet. Sementara perpektif
optimis yaitu
Media dan internet membawa orang asing menjadi lebih
dekat dan hal ini membuat penggunanya dapat berinteraksi dengan beragam suku
dari berbagai daerah. Perspektif optimis juga berfokus
pada pandangan bahwa internet juga dirasa mampu memberikan kontribusi atau
maanfaat tertentu contohnya yaitu kepada partai
politik, lembaga swadaya masyarakat, kongres kampanye dan kelompok aktivis lokal (Browning dan Weitzner, 1996; Corrado,
2000; Davis, 1999; Ruam, 1997).
Pokok
bahasan yang cukup menarik pada saat ini yaitu internet dianggap dapat memberi
kontribusi dalam dunia perpolitikan, yang kita tahu dimana kini Indonesia tengah memasuki tahun
politik. Studi dan survei baru-baru ini menemukan bahwa pengguna internet
cenderung lebih tertarik pada peristiwa terkini, kampanye dan aktivis politik
sudah mulai menggunakan internet untuk berbagai keperluan, pengguna lebih
terlibat dalam kegiatan sipil dan politik daripada non-pengguna, dan banyak
kantor pemerintah menyediakan e -mail dan akses Web. Dengan demikian dapat
dikatakan jika Internet sudah menjadi alternative baru guna menjadi media atau
alat untuk komunikasi politik, namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah
internet akan meningkatkan atau justru mengurangi partisipasi atau keterlibatan masyarakat dalam politik ?
Seperti
yang dikatakan oleh John Seely Brown, bahwa para pengguna internet cenderung
memiliki kekurangan dari hubungan primer sehingga dapat mendorong
ketidakbertanggungjawaban, dan bahkan sikap antisosial dalam masyarakat. Secara
tidak langsung John menggambarkan bahwa internet dapat mendorong
ketidakbertanggungjawaban yang bisa diartikan jika internet belum bisa
menigkatkan partisipasi masyarakat dimana semuanya punya hak sama dalam dunia
perpolitikan. Hal ini membuat
keterkaitan aktif dan partisipasi dalam masyarakat telah menurun secara
signifikan, dan menunjukan bahwa kelompok kepentingan dengan konstituensi lokal
dan interaksi telah menurun secara umum, Orang – orang menghibur diri mereka
lebih sering di rumah dan cenderung pasif dalam pemilihan dan kepercayaan pada
pemerintah pun rendah.
Para pengguna aktif internet yang juga sering disebut sebagai
masyarakat maya mungkin secara sosial dan politik merupakan kelompok yang
terpinggirkan, namun pada akhirnya mereka menemukan ruang ekspresif bagi mereka di internet, di mana internet
digunakan untuk menemukan orang lain yang sepemikiran, yang bicara dengan
bebas, dan menempa solidaritas serta mereka mempunyai satu kepentingan bersama.
Masyarakat maya tidak bisa menggantikan masyarakat organik karena jumlah mereka
yang terbatas, tetapi mereka masih memungkinkan dapat mendukung dan memperkuat
masyarakat organik.
Tak dapat di pungkiri bahwa internet memang memiliki potensi untuk meningkatkan
komunikasi publik dan memperkaya demokrasi. Seiring dengan perkembangan
internet kemudian menhadrikan sosial
media, seperti Facebook, Twitter,YouTube serta Blog, dengan adanya sosial media orang
lebih mudah berekspresi dan mengungkapkan pendapatnya dan dalam hal ini juga
menjadikan partisipasi politik
masyarakat khususnya kaum muda melalui
internet meningkat pesat. Social media sendiri di
Indonesia sangat laris manis bahkan tidak jarang gerakan melalui
sosial media berhasil mendesak pemerintah untuk mengubah
sebuah kebijakan yang biasanya bermuatan kontroversial.
Banyak yang berpendapat bahwa penggunaan internet memiliki pengaruh
positif terhadap partisipasi politik, dan pengetahuan serta keterlibatan
masyarakat, sementara sebagian lain berpendapat bahwa penggunaan internet
memiliki pengaruh yang kecil dan tidak signifikan pada partisipasi politik. Ketimbang
pendapat yang memiliki pandangan positif maka apabila dibandingkan dengan
pandangan negatifnya maka implikasinya lebih real dirasakan contohnya yaitu tentang persoalan ‘Jokowi’ dimana
sebuah blog detik yang mengangkat tema dan isu-isu hangat yang berjudul “Jokowi bisa Gagal Menjadi Clon Presiden”
diambil dari http://aribicara.blogdetik.com/jokowi-bisa-gagal-jadi-calon-presiden-inialasanya/?nd771104blog
Dalam penulisan artikel tersebut tentu saja tidak terlepas dengan feed back atau respon dari masyarakat maya
yang memang menyimak dengan sengaja artikel tersebut dan memberikan
tanggapannya. Tanggapan tersebut dituangkan dalam komentar-komentar terhadap
artikel, namun yang disayangkan yaitu kebanyakan komentar hanya ditanggapi oleh
beberapa orang saja dan bahkan satu orang bisa berkomentar lebih dari satu kali
dan hal ini menandakan bahwa isu politik belum dapat menarik banyak masa untuk
lebih aktif merespon isu politik.
Kemudian bukti yang lebih signifikan lagi yaitu terdapat beberapa
komentar yang isinya mengandung unsur bahwa sesungguhnya orang tersebut
meskipun sudah membaca artikel politik yang di poskan namun masih menunujukan
kurangnya partisipasi dan antusiasme terhadap dunia perpolitikan. Berikut adalah
salah satu komentar :
“Golput
aja ah gak ada yang ok” ( Dari akun “saya”)
Dengan
hal tersebut publik terjebak kedalam pemberdayaan semu. Dalam pemberdayaan
semu, setiap orang mengira opini yang ia lontarkan dan sebarkan seluas-luasnya
memiliki dampak bagi kebaikan bersama, tapi sebenarnya hal itu hanya mengambang
di ruangmaya. seseorang yang berkomentar merasa sudah sangat produktif, padahal
yang dikerjakan hanya mengumpulkan informasi, mengomentarinya dan meneruskannya
ke orang-orang lain. Dalam konteks ini, publik akan semakin terjebak kedalam
percakapan semu, dimana orang hanya meneruskan kata-kata asal bisa yang menjadi
bagian dari public dan tentu saja tidak ada dialog, ataupun adu argumentasi
yang menggunakan rasio atau menggunakan dasar yang valid.
Kesimpulan
yang dapat diambil dengan adanya
internet yaitu dapat dilihat bahwa pengetahuan politik masyarakat memang
bertambah misalnya dengan kita lebih mengenal tokoh-tokoh politik lewat
internet. Namun, belum tentu hal itu menjadikan partisipasi masyarakatnya terhadap
politik menjadi bertambah dan meningkatkan mutu demokrasi khusunya di Indonesia
yang system dmokrasinya masih rancu.
Dari
pembahasan tersebut maka pengaruh penggunaan internet lebih cenderung di
pandang dengan perspektif pesimis ketimbang dengan perspektif optimis dalam melihat
partisipasi atau keterlibatan masyarakat dalam politik yakni bahwa internet tidak punya pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat. Pembahasan tersebut
juga membuktikan bahwa penggunaan internet berpengaruh pada sebuah keterlibatan
dalam politik, dan bukan hanya politik saja namun juga berpengaruh pada lembaga swadaya masyarakat, kongres kampanye
dan kelompok aktivis lokal. Selain itu penggunaan
internet juga memiliki perpektif optimis dan perspektif pesimis dalam akses
atau jaringan internet serta interaksi yang terjadi dalam penggunaan internet
seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Bukan
hanya itu saja Internet kini
juga bisa berfungsi sebagai sarana mengekspresikan diri mereka misalnya melalui
halaman web pribadi atau mengembangkan hubungan dengan teman dan keluarga dan
menjadi disosialisasikan dan contoh kokritnya yaitu tercermin dari komentar
yang dilontarkan seseorang merupakan salah satu perwujudan dari sebuah
ekspresi. Meskipun kita mungkin tidak pernah tahu seperti apa orang tersebut di
dunia nyata atau sebagai masyarakat organik
yang memiliki kemungkinan berbeda saat berada di dunia maya atau ketika menjadi
bagian dari masyarakat maya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar