STUDI
BUDAYA DAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI
(Teknologi sebagai Praktek Budaya)
Culture study atau studi
budaya sendiri berhubungan erat dengan sejenis ilmu spesifik, studi budaya ini
lebih menfokuskan terhadap karakteristik para ilmuan dalam memandang sebuah
realitas. Hubungan antara teknologi dengan budaya memliki
sejarah yang panjang dan kaya. Selama beberapa dekade
ini para sarjana dan para pembuat kebijakan telah berjuang dan berpendapat
bahwa teknologi bukan sekedar alat saja melainkan sebuah konteks dan sebuah
pendekatan mengakui teknologi memiliki kaitan dengan budaya. Dengan adanya
kaitan tersebut maka pertama-tama kita akan membahas tentang studi budaya
sebagai karakteristik ilmuan memandang realitas.
Studi budaya
cukup sukar untuk didefinisikan, hal ini disebabkan karena
Studi budaya tidak termasuk dalam disiplin ilmu
manapun. Salah satu ciri pandangan ilmuan terhadap Studi budaya yaitu tidak
angsih (semata-mata) pada sesuatu itu sendiri, karena sesuatu itu selalu
berkaitan dengan sesuatu yang lain dan adanya konsep artikulasi yang tidak
hanya menggambarkan secara detail tapi juga dengan sesuatu yang lain (intra
disipliner, tran disipliner, counter disipliner ). Seperti
pernyataan bahwa “Kajian budaya tidak akan pernah satu hal, tapi itu tidak
berarti bahwa itu adalah sesuatu dan segala sesuatu (hall, 1990: 11) atau ‘apa menyebabkan apa’.
Teori
artikulasi mengakui bahwa teori, metode dan praktek selalu tertanam dalam, dan mencerminkan
historis serta dibatasi oleh keadaan historis mereka. Hal pokok yang menjadi
ciri khas dari study budaya dalam hubungannya dengan teknologi atau media yaitu
‘apa atau sesuatu yang menyebabkan apa dan sesuatu apa yang mengakibatkan apa’
dan satu hal yang menjadi tidak kalah penting yaitu bagaimana pengalaman
seseorang dalam menggunakan teknologi (experience). Studi
budaya sangat cocok untuk mengungkapkan dan mengkritisi tentang
teknologi sebagai cara
alternatif dalam memahami dan membentuk hubungan antara teknologi dan budaya.
Gagasan
Winner (1996) bahwa teknologi adalah bentuk dari kehidupan; kemunduran ide dari
teknologi itu sendiri dianggap sebagai sebuah artikulasi (1989); Latour (1988,
1996; Callon dan Latour, 1981) dan haraway (1992) konsep dari agen teknologi;
dan Wise (1997) teknologi dikiaskan sebagai orang – orang yang berkumpul.
Setiap tokoh menolak anggapan umum mengenai persamaan (pemaknaan) teknologi
sebagai sesuatu, dengan perasaan yang menenangkan bahwa batas dari apa itu
teknologi khusus dapat dibatasi dengan jelas.
Sedangkan
Hall, dalam interviewnya mengungkapkan quote besar pada sebuah artikulasi,
menegaskan peran dari sebuah kemungkinan :
Sebuah
artikulasi adalah sedemikian bentuk koneksi yang dapat membuat kesatuan dari
dua elemen yang berbeda, kondisi yang berada di bawah kepastian. Hal itu adalah
hubungan yang tidak dibutuhkan, pemutusan yang absolut, dan diperlukan setiap
waktu. Anda harus mempertanyakan atas dasar keadaan yang seperti apa koneksi
dapat diusahakan dan dibuat? Jadi dengan apa yang disebut ‘kesatuan’ terhadap
sebuah tulisan (atau identitas abstrak, seperti halnya teknologi atau
pergerakan) sangat terartikulasi terhadap perbedaan, elemen jelas yang dapat
di-reartikulasi dalam jalan yang berbeda karena hal itu tidak memiliki
‘kepemilikan’ yang dibutuhkan. (1986: 53)
Studi budaya bisa dikatakan tidak sepakat jika
teknologi dipisahkan dngan budaya, karena teknologi tidak hadir di tengah
budaya dan serta budaya mendorong perkembangan teknologi. orang mengalami teknologi sebagai praktek budaya
mereka. Disini teknologi bisa berperan untuk menguatkan (revoir) budaya atau struktur yang
telah ada, cara berpikir yang baru, cara pandang yang baru, dan ada perubahan
teknologi merupakan sebuah bentuk praktek dari kebudayaan.
Secara historis, memahami peran teknologi dalam budaya merupakan
sesuatu yang sangat mendesak
seperti sebagai berikut:
1. Media baru teknologi memainkan peran sentral dalam
perubahan konfigurasi ekonomi global politik.
2. Teknologi media baru memberikan kontribusi untuk
mendefinisikan sebuah organisasi pengetahuan baru, era informasi.
3. Media baru teknologi memainkan peran mencolok dalam budaya
populer.
Hal
yang akan menjadi focus utama dalam pembahasan ini yaitu apakah benar bahwa teknologi
mendorong perubahan budaya (determinisme teknologi)? Atau teknologi sebagai alat
netral, dan dampaknya pada politik? lalu
yang menjadi cukup miris yaitu pertanyaan
tentang
ketergantungan teknologi: kita telah menjadi begitu
tergantung pada teknologi? dan Sudahkah kita menjadi budak mesin kita sendiri?
dan
menjadikan bahwa teknologi merupakan praktek kebudayaan?
Teknologi
dalam arti sebagai praktek kebudayaan dapat mengotak-kotakan orang menjadi
tidak setara contoh : tingkat melek teknologi menjadi multi determinan dan tidak netral tapi menguatkan apa yang ada
di masyarakat. Contoh : Perkembangan sosial media facebook yang laris manis di
indonesia disebabkan karena konsep dari facebook yang dapat diaplikasikan dan
diidentikan dengan kultur masyarakat
indonesia.
Adanya
determinisme teknologi memunculkan topik penting yaitu seperti gender, politik
dan identitas, ruang (bisa hadir atau tidaknya seseorang) . Masalah pokok gender
yaitu eksploitasi peran, seseorang bisa dengan mudah berganti-ganti identitas, serta
adanya ketimpangan dan ketidaksetaraan dalam masyarakat. Contoh kasus
eksploitasi gender yaitu : game online yang cenderung yang mengekploitasi tubuh
wanita yang dijadikan sebagai daya tarik. Laura Miller (1995), 'perempuan dan
anak pertama, menggambarkan bahwa bias gender teknologi memiliki kegunaan
politik. Dia berpendapat, misalnya, penggambaran dunia maya sebagai ranah yang
bias terhadap, , perempuan dalam melayani fungsi politik, meningkatkan regulasi
yang luas dan kontrol melalui internet. Selain pertanyaan bias gender dan
penggunaan politik, teori budaya telah menimbulkan pertanyaan tentang identitas
gender juga (1983).
Bias
politik teknologi telah sering dibahas melalui lensa gender. Karya gender dan
teknologi cukup luas, termasuk bekerja pada media baru (misalnya, Balsamo,
1996; Cherny dan Weise, 1996; Consalvo dan Paasonen, 2002; Green dan Adam 2001,
bahwa wanita hanya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga dan lalu memperkuat
peran sosial perempuan dalam rumah tangga dan pria di tempat kerja.
Pertanyaan
tentang identitas ini bisa berupa pemalsuan identitas seseorang diman, orang
bisa berhasil menyamar sebagai seorang wanita, dan sebaliknya? Dale Spender
(1996), misalnya penelitian tentang bahasa, percaya bahwa factor gender
pengguna akan membuat dirinya
dikenal.
Untuk Miller, argumen ini membawanya mempertanyakan bagaimana Gender (jenis
kelamin) berperan untuk menggambarkan manusia secara nyata (1995: 57). Ini
memperkuat titik bahwa dunia maya tidak ada dalam ruang hampa tetapi dalam
konjungtur sosial dan budaya tertentu.
Seseorang
dapat berselancar di dunia maya tanpa
tahu ras atau jenis kelamin - Anda bahkan mungkin dapat mengambil potensi dunia
maya untuk kerahasiaan langkah lebih lanjut dan menyamar sebagai ras atau
gender yang tidak mencerminkan sebuah kenyataan, online juga memungkinkan untuk
melarikan diri identitas 'dunia nyata' seseorang dengan sepenuhnya. Latour
berpendapat bahwa teknologi adalah moral. Mereka dapat memaksakan 'benar'
perilaku dan menumbuhkan kebiasaan 'baik' ataupun sebaliknya. Pendekatan umum
meneliti bagaimana karakteristik teknologi komunikasi membentuk pengalaman
pengguna dan bahkan cetakan masyarakat itu sendiri. Misalnya, Innis berpendapat
bahwa teknologi komunikasi memiliki 'Bias' tidak hanya terhadap sentralisasi
atau desentralisasi baik, tetapi lebih krusial menuju ruang atau waktu.
Persoalan
identitas selalu menjadi pusat pekerjaan pembelajaran kebudayaan, dari perdebatan
dengan kelas Marxisme yang menentukan ide penting identitas ke kebudayaan (dan
kebudayaan ke identitas). Pembelajaran kebudayaan juga berdebat menentang
posisi pokok pada identitas. Identitas agaknya adalah produk hubungan sosial
dan pengalaman. Mengikuti Williams (1958/1989) dalam ‘Kebudayaan adalah Biasa’,
identitas terbentuk dalam hubungan diantara tradisi dan warisan dan keseluruhan
cara dari hidup, itulah, dalam kehidupan dari warisan dan negosiasi dari
tantangan itu pengalaman berkembang menjadi warisan tersebut.
Selanjutnya
adanya ketimpangan dan ketidaksetaraan dalam masyarakat dapat dilihat dalam
contoh kasus yang mengangkat tentang melek media, misalnya orang yang lebih
melek media dianggap cenderung lebih tinggi drajatnya disbanding orang yang
belum melek media. Jenis kemampuan melek media anak sama kerasnya dengan
kemampuan yang memastikan kelangsungan hidup mereka di abad 21 ini.
Winner menunjukkan bahaya memisahkan teknologi dari
budaya dan masyarakat: hal ini memungkinkan seseorang untuk terombang – ambing
oleh retorika (kata-kata, ucapan, pengaruh informasi) yang menyertai teknologi media baru ( sebuah keyakinan
yang ia sebut sebagai “Mythinformation (Mitos Informasi) (1986:105). Ia berpendapat bahwa teknologi baru cenderung memperkuat
struktur kekuasaanyang ada secara keseluruhan dan tidak menolaknya serta lebih jauh mengakui bahwa teknologi adalah bentuk
kehidupan.
Jennifer Daryl Slack berpendapat bahwa teknologi dapat
dipahami sebagai sebuah artikulasi, sebagai 'koneksi yang
tidak diperlukan dari berbagai elemen
itu, ketika terhubung dengan cara tertentu, membentuk satu kesatuan khusus'
(1989:331). Jika teknologi (dia menggunakan contoh komputer pribadi) itu
sendiri merupakan artikulasi elemen (hardware, software, jaringan, dll) yang
dapat dihubungkan dengan cara yang berbeda dengan unsur-unsur lain (ekonomi,
ideologi, politik, kebijakan, jenis kelamin, dll .)
Teori kultural menolak untuk
mempelajari komputer sebagai sebuah perangkat keras, perangkat lunak, dan
jaringan sederhana yang menghubungkan satu komputer ke komputer lain atau ke
media lain.
Para
ahli memandang komputer sebagai sebuah media ‘connecting’ yaitu punya sesuatu
atau makna yang lain dengan korelasi sosial, serta mempengaruhi aspek ekonomi. Misalnya
dengan komputer seseorang punya kualiti
yang beda ( konektivitas ekonomi atau bisnis
dengan orang lain) atau menjadikan sesuatu yang belum waktunya menjadi
bisa dikonsumsi oleh konsumen yang tidak tepat ( contoh akses video porno oleh
anak dii bawah umur).
Pengalaman
seorang manusia dengan komputer menyebabkan perubahan, sesuatu dapat berubah
bisa karena factor komputer yang berkuasa ataupun dari penggunana yang berkuas
dan bukan komputer, hal ini terjadi karena pada dasarnya seorang pengguna bisa
dipintarkan oleh komputer dan bisa juga dibodohkan. Sesungguhnya hal itu merupakan
pengguna atau diri kita sendiri yang menentukan. Orang perlu pemahaman tentang
apa yang dalami dan harus mengetahui subjek terlebih dahulu sebelum menge-judge
sesuatu. ( pemikiran aksi dalam teknologi komunikasi).
Kenyataan
yang sebenarnya yaitu bahwa relasi kekuasaan dimana terdapat users atau
pengguna yang besar dan terbesar justru adalah orang atau objek yang paling dibajak. Harold Innis (1951) memperkenalkan gagasan
bias teknologi: bias terhadap dan imposisionalisasi atau desentralisasi kekuasaan. Kecenderungan sangat luas ketika membahas teknologi baru
(termasuk komunikasi baru dan teknologi informasi seperti satelit, kabel,
siaran digital, internet, World Wide Web) adalah memperlakukan bahwa
mereka benar-benar revolusioner, seolah-olah mampu
mengubah segalanya dan mungkin untuk melakukannya dalam konteks
budaya yang sudah ada.
Daftar Pustaka
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone.
2006, Handbook of New Media : Social
Shaping and Social Consequences of ITCs, Sage Publication Ltd. London. Pokok Bahasan : Culture Studies and Communication Technology.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar